ADVERTISEMENT

Komisi I DPR Nilai Langkah RI Setujui Resolusi PBB soal Ukraina Tepat

Matius Alfons - detikNews
Kamis, 03 Mar 2022 10:45 WIB
Ketua Komisi 1 DPR RI, Meutya Hafid
Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid (Foto: dok. Golkar)
Jakarta -

Indonesia bersama 140 negara lain menyetujui resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang meminta Rusia menghentikan serangannya ke Ukraina. Ketua Komisi I DPR RI Meutya Viada Hafid menilai sikap Indonesia sudah tepat terkait invasi Rusia ke Ukraina.

"Sudah tepat. Konsisten dengan semangat RI yang dicetuskan wapres RI Moh Hatta pada 1949, bahwa politik luar negeri Indonesia adalah bebas aktif," kata Meutya saat dihubungi, Kamis (3/3/2022).

Meutya mengatakan sikap Indonesia menyetujui resolusi PBB juga sudah sesuai dengan UUD 1945 yang menegaskan soal ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Karena itu, kata dia, persetujuan Indonesia sudah sesuai konstitusi negara.

"Jadi persetujuan Indonesia terhadap resolusi PBB itu memang sudah sesuai koridor dengan konstitusi negara, semangat pendiri negara, dan sesuai dengan karakteristik Indonesia sebagai masyarakat dunia yang cinta damai," ucapnya.

Sidang Majelis Umum PBB Sesi Khusus Darurat (Emergency Special Session), di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, Rabu (2/3) waktu setempat. (Kanal YouTube United Nations)Hasil voting Sidang Majelis Umum PBB Sesi Khusus Darurat soal Invasi Rusia ke Ukraina (Emergency Special Session), di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, Rabu (2/3) waktu setempat. (Kanal YouTube United Nations)

Lebih lanjut, politikus Golkar ini juga menyebut tidak perlu ada yang dikhawatirkan terkait sikap Indonesia terhadap resolusi PBB soal penghentian invasi Rusia ke Ukraina tersebut. Dia meyakini keputusan ini tidak akan berdampak pada hubungan Indonesia dengan Rusia.

"Indonesia selalu konsisten tidak hanya terhadap Rusia. Kita juga mengecam aksi militer terhadap Palestina. Ketika Amerika dan koalisi menyerang Irak pada 2003, Indonesia juga bersuara lantang mengecam. Selama konsisten, saya rasa tidak perlu khawatir. Saya tidak yakin Rusia akan mengambil sikap Indonesia untuk merisikokan kerja sama dengan Indonesia dalam bidang lainnya. Jikapun berdampak, hal tersebut sebuah risiko yang tetap harus kita ambil," ujarnya.

Simak selengkapnya soal hasil voting resolusi PBB di halaman berikutnya.

Saksikan Video 'Tangis Warga Ukraina saat Berbondong-bondong Tinggalkan Negaranya':

[Gambas:Video 20detik]



Untuk diketahui, Indonesia termasuk salah satu negara yang menyetujui resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang meminta Rusia menghentikan serangannya ke Ukraina. Bukan hanya Indonesia, 140 negara lain juga bersikap sama.

Voting diambil dalam Sidang Majelis Umum PBB Sesi Khusus Darurat (Emergency Special Session) di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, Rabu (2/3) waktu setempat. Sidang dipimpin oleh Presiden Majelis Umum PBB Abdulla Shahid.

Dilansir AFP, Kamis (3/3/2022), resolusi itu juga mengutuk kebijakan Vladimir Putin selaku Presiden Rusia mengerahkan pasukan nuklirnya dalam posisi siaga.

Momen voting ditayangkan lewat siaran langsung di kanal YouTube PBB. Sidang dipimpin oleh Presiden Majelis Umum PBB Abdulla Shahid. Tepuk tangan bergemuruh, terlihat Wakil Tetap Ukraina di PBB Sergiy Kyslytsya berdiri dan bertepuk tangan, sedangkan Wakil Tetap Rusia di PBB Vasiliy Nebenzia duduk dengan masker turun ke bawah bibir.

Berikut perincian jumlah negara yang menyetujui resolusi PBB:
Setuju: 141 negara
Tidak setuju: 5 negara
Tak memberikan suara: 35 negara

Dalam layar, terlihat Indonesia menjadi salah satu dari 141 negara yang menyetujui resolusi ini. Dari Asia Tenggara, ada pula Malaysia, Singapura, Timor Leste, Singapura, hingga Thailand yang juga menyetujui resolusi ini. Afghanistan, yang kini dipimpin Taliban, juga menyetujui resolusi untuk menghentikan invasi Rusia ke Ukraina ini.

Negara-negara yang tidak setuju dengan resolusi ini adalah Rusia, Belarusia, Korea Utara, Suriah, dan Eritrea.

Negara-negara yang abstain antara lain China, Bolivia, Iran, Irak, India, Pakistan, Vietnam, hingga Afrika Selatan.

(maa/imk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT