Dari Klitoris Hingga Akhir Tragis

Skandal Hirsi Ali

Dari Klitoris Hingga Akhir Tragis

- detikNews
Selasa, 16 Mei 2006 17:05 WIB
Den Haag - Nasib wanita dalam dunia Islam penuh kekerasan. Sejak lahir klitorisnya dipotong, demikian kekerasan berlanjut hingga ke liang lahat.Itulah antara lain isu-isu yang diangkat Ayaan Hirsi Ali atas apa yang diklaimnya sebagai perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat wanita Islam di Belanda.Namun perjuangan wanita Somalia ini tidak nyambung dengan kalangan muslim sendiri di Belanda. Apa yang dia gambarkan sebagai 'islam' dinilai merupakan refleksi dari latar belakang kebudayaannya sendiri dan pengalaman hidupnya yang penuh kekerasan, bukan islam. Di kalangan komunitas Somalia sendiri, Hirsi Ali dianggap sebagai aib.Nama sebenarnya Ayaan Hirsi Magan, dilahirkan pada 13/11/1969 di Mogadishu, Somalia. Ia mempunyai 4 saudara perempuan dan satu laki-laki, dari empat istri ayahnya. Ibu kandungnya akhirnya hidup cerai, tetap di Somalia, sedangkan ayahnya menetap di London.Pada 1992 dia meminta suaka di Belanda dengan cerita haru-biru dengan mengaku sebagai Ayaan Hirsi Ali. Dia juga mengaku sebagai gadis muslimah disunat dengan dipotong klitorisnya tanpa pembiusan sama sekali, mengalami perang sampai 5 kali, dan dikawinkan paksa oleh ayahnya, sehingga dia kabur ke Belanda. Atas semua cerita itu dia lalu mendapat status perlindungan di Belanda. Lima tahun kemudian (1997), permohonannya untuk naturalisasi dikabulkan. Belakangan, programa Zembla mengungkapkan fakta sebaliknya.Segera setelah memperoleh suaka, dia menikmati pendidikan pada Sekolah Tinggi Driebergen. Setahun kemudian dia masuk Univeritas Leiden, mengambil jurusan Politikologi. Lulus dari Leiden, Hirsi Ali masuk wadah pemikiran milik Partai Buruh, Wiardi Beckman Stichting.Setahun kemudian pada Oktober 2002, dia membuat guncangan besar dengan menyatakan bergabung ke partai liberal VVD, saingan bebuyutan Partai Buruh. Menjelang keputusannya itu, Hirsi Ali melepaskan pernyataan kontroversial, sekaligus penjebol tabu dalam hubungan multikultural di Belanda. Ia ketika itu menamai islam sebagai kebudayaan terbelakang.Pernyataan itu memantik suhu politik di Belanda, terutama karena latar belakang politik sedang diwarnai turbulensi akibat ketakutan pasca peristiwa 11/9, dominasi isu islam teroris serta kemunculan tokoh ultra kanan Pim Fortuyn dan peristiwa pembunuhannya oleh aktifis lingkungan, Volkert van der Graaf.Hirsi Ali makin merebut perhatian dan dielu-elukan ketika dia juga berani menyentuh simbol islam dengan menyebut bahwa Nabi Muhammad adalah seorang tiran, pedofil, dan kejam. Pembobolan tabu oleh Hirsi Ali itu kemudian diikuti para kolomnis dan sineas, antara lain Theo van Gogh. Ketika M. Bouyari membunuh Van Gogh, menyusul film Submission garapannya bersama Hirsi Ali, Belanda mengalami guncangan kedua setelah terbunuhnya Fortuyn. Sebagian orang menyalahkan Hirsi Ali, karena memanfaatkan posisi sekaligus ketidaktahuan Van Gogh tentang simbol-simbol kesucian dalam islam.Selanjutnya Hirsi Ali menghilang dan mendapat penjagaan ketat. Namun jalan kontranya terhadap islam masih terus menghiasi media. Ia kembali melontarkan gagasan kontroversial dengan mengusulkan pelarangan sekolah-sekolah islam yang berwarna agama. Gagasan ini ditentang partai Kristen Demokrat (CDA), yang juga berkepentingan dengan sekolah-sekolahnya. Selain itu Konstitusi Belanda Pasal 23 menjamin kebebasan pendidikan. Hirsi Ali juga pernah mengangkat isu bahwa sunat pada anak-anak laki-laki islam seharusnya dilarang, karena itu adalah pencacatan pada fisik anak-anak dan anak-anak belum punya kesadaran menentukan hak atas tubuhnya sendiri. Namun langkah Hirsi Ali kali ini mendapat 'sempritan' kuat dari komunitas Yahudi. Sejak itu dia tidak pernah lagi mengutak-atik soal sunat.Kini setelah kebohongan-kebohongan soal ceritanya dalam meraih suaka terbongkar, keadaan menjadi berbalik 180 derajat untuk Hirsi Ali. Kredibilitasnya kini cacat. Kewarganegaraan Belandanya tidak sah, dengan demikian statusnya sebagai anggota parlemen juga menyalahi UU. Karir politik Hirsi Ali di Belanda tamat. Hari ini dia akan resmi menyatakan mundur dalam konferensi pers. Dan kemungkinan dia masih akan menghadapi proses hukum dari Kejaksaan Agung. (Sumber: parlement.com, Trouw) (es/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads