ADVERTISEMENT

BMKG: Hujan Es Masih Dapat Terjadi hingga Maret-April

Dwi Andayani - detikNews
Rabu, 23 Feb 2022 09:54 WIB
Jakarta -

Hujan es terjadi beberapa hari terakhir di sejumlah daerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kejadian hujan es masih dapat terjadi hingga Maret-April.

"Potensi kejadian hujan es masih dapat terjadi hingga Maret-April mendatang, masyarakat harap waspada," tulis BMKG dalam akun Twitter resminya, Rabu (23/2/2022).

Fenomena hujan es disebut telah terjadi selama sepekan di beberapa wilayah, seperti Bekasi, Surabaya, dan Lampung. Kejadian ini disertai hujan dengan intensitas lebat dan durasi singkat.

"Kejadian cuaca ekstrem berupa fenomena hujan es telah terjadi dalam sepekan ini di beberapa wilayah, seperti Surabaya, Lampung, Bekasi, dan wilayah lainnya. Kejadian tersebut disertai juga dengan hujan intensitas lebat dalam durasi singkat yang disertai kilat/petir dan angin kencang," ujarnya.

BMKG mengimbau masyarakat agar waspada terkait kemungkinan cuaca ekstrem tersebut. Tidak hanya itu, masyarakat juga diminta waspada terhadap dampak yang ditimbulkan diantaranya banjir, longsor, hingga pohon tumbang.

"BMKG memberikan imbauan kpd masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya potensi cuaca ekstrem tersebut serta dampak yang dapat ditimbulkan berupa bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, jalan licin, pohon tumbang, dll," tuturnya.

BMKG menjelaskan, terjadinya hujan es karena dipicu adanya pola konvektivitas di atmosfer. Hujan es dapat terbentuk dari sistem awan Cumulonimbus dan keluar menjadi menjadi fenomena hujan es.

"Fenomena hujan es dapat terjadi karena dipicu oleh adanya pola konvektivitas di atmosfer dalam skala lokal-regional yang signifikan. Hujan es dapat terbentuk dari sistem awan Cumulonimbus (Cb) yang umumnya memiliki dimensi menjulang tinggi yang menandakan bahwa adanya kondisi labilitas udara signifikan dalam sistem awan tersebut sehingga dapat membentuk butiran es di awan dengan ukuran yang cukup besar," tulis BMKG.

"Besarnya dimensi butiran es dan kuatnya aliran udara turun dalam sistem awan CB dapat menyebabkan butiran es dengan ukuran yang cukup besar yang terbentuk di puncak awan Cb tersebut turun ke dasar awan hingga keluar dari awan dan menjadi fenomena hujan es," imbuhnya.

(dwia/imk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT