Meski Belajar di Tenda, Siswa Aceh Siap UN
Senin, 15 Mei 2006 17:22 WIB
Banda Aceh - Meski ribuan siswa di Aceh masih melakukan proses belajar di gedung-gedung darurat dan tenda-tenda, dipastikan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tidak akan terkendala. "Kita sudah cek ke daerah-daerah tingkat dua. Ke Simeulue juga. Semua sudah siap. Kesiapannya bukan hanya soal ruangan, tapi juga anak-anak sudah siap," jelas Kepala Dinas Pendidikan NAD, Alamsyah Banta, pada wartawan, Senin (15/5/2006) di SMA 1 Peukan Bada, Aceh Besar. Alamsyah bersama stafnya mengunjungi sekolah itu untuk melihat persiapan UN tingkat SMA yang akan digelar Selasa besok. Kesiapan para siswa dikatakannya berdasarkan hasil try out yang dilakukan selama ini. Dari hasil tersebut, dia berharap tingkat kelulusan UAN bisa mencapai di atas 70 persen. Jumlah peserta UN untuk tingkat SMA, Madrasah Aliyah (MA) dan SMALB serta SMK di Aceh mencapai 99.759 siswa. Mereka tersebar di 21 Kabupaten/Kota se-Aceh. Menurutnya, persiapan UN ini sudah mulai dilakukan sejak Juni tahun lalu. Selain Pemda dan sekolah-sekolah, Badan Rehabiliasi dan Rekonstruksi NAD juga ikut membantu persiapan. Jika merujuk pada data kelulusan tahun lalu untuk tingkat SMA sederajat, angka kelulusan hanya mencapai 13 persen dari 167.000 siswa. Setelah diadakan ujian susulan, kelulusan hanya mencapai 52 persen. Alamsyah Banta berharap bahwa minimnya sarana di beberapa sekolah pascatsunami tidak menurunkan kualitas belajar mengajar sehingga target kelulusan dapat dicapai. Yang paling mengkhawatirkan dirinya justru kurangnya ruangan pada sekolah-sekolah yang ada. "Yang saya risau sekarang itu, kekurangan lokal bagi anak-anak di tahun ajaran baru nanti. Jadi paling tidak, ada tambahan satu lokal baru untuk tiap-tiap sekolah," katanya. Sampai saat ini, diungkapkan Alamsyah, dari 3334 unit sekolah yang hancur dan rusak di Aceh, baru 30 persen yang dibangun kembali dan direnovasi. Dari jumlah tersebut, 1.800 hancur dan rusak akibat tsunami, selebihnya karena lapuk dimakan usia dan dibakar ketika Aceh masih didera konflik.
(nrl/)











































