Kisah Mbah Marijan dan 4 Kata Pantangan
Senin, 15 Mei 2006 15:15 WIB
Sleman - Nama Mbah Marijan melejit bersamaan dengan semakin meningkatnya aktivitas Gunung Merapi. Warga Dusun Kinahrejo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, ini menolak mengungsi, meski belasan aparat sudah mendatanginya. Alasannya, ia diperintahkan langsung oleh almarhum Sri Sultan HB IX untuk menjaga Merapi dengan menjadi juru kunci.Padahal, tempat tinggal Mbah Marijan merupakan kawasan berbahaya, karena hanya berjarak sekitar 5 km dari puncak Merapi. Ia berada di desa terakhir atau desa paling atas di kawasan Cangkringan. Ia tetap bertahan meski Kapolres Sleman dan sejumlah pejabat pernah mendatangi dan memintanya turun. Alasannya, selama mandatnya sebagai juru kunci belum dicabut Sultan, ia akan tetap bertahan.Bagi Mbah Marijan, dirinya tetap yakin Merapi tidak akan meletus, meski awan panas dan lava terus berguguran. "Saat ini Merapi lagi membangun, mengeluarkan lava dan awan panas. Itu bagian dari bersih-bersih Merapi. Tidak usah khawatir, untuk wilayah Cangkringan aman. Tetapi untuk daerah lain saya tidak bisa pastikan, silakan mengungsi," kata Mbah Marijan saat ditemui di rumahnya, Dusun Kinahrejo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, Senin (15/5/2006).Bagi Mbah Marijan, manusia yang akan menyuarakan kebaikan akan mendapat perlakuan yang baik. Untuk itu, ia percaya adanya sejumlah pantangan yang tidak boleh disebut. "Kata-kata yang tidak boleh disebut adalah kata mbledhos, njeblug, meletus dan wedhus gembel. Kata-kata itu akan mengganggu Merapi, " kata Mbah Marijan.Selain pantangan menyuarakan kata-kata di atas, lanjut Marijan, ada sejumlah tindakan yang dianggap tidak baik dilakukan. "Menunjuk ke Merapi juga tidak boleh. Jadi jangan tunjuk-tunjuk Merapi," katanya tanpa menjelaskan apa alasannya.Mbah Marijan yang dianugerahi Kraton Yogyakarta nama Raden Ngabehi Surakso Hargo ini mengaku tidak terpengaruh dengan ulah Merapi. Ia tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Mencari rumput ke hutan, tidur siang dan menggelar pengajian pada malam hari. "Kami hanya bisa mengajak warga agar membaca Surat Yasin, dari situ akan diketahui," ujarnya tanpa menjelaskan lebih lanjut.Kepedulian Mbah Marijan terhadap Gunung Merapi tidak main-main. Ia sangat peduli dengan apa yang terjadi di sekitar gunung teraktif di dunia ini. Seperti adanya penambangan pasir besar-besaran dengan menggunakan bekhu. Mbah Marijan menolak penggunaan bekhu untuk menambang pasir. "Jangan sampai bekhu dikembalikan lagi untuk mengeruk pasir di hulu sungai Merapi, karena Merapi bisa marah," katanya. Mbah Marijan mengaku mendapat informasi kalau sejumlah sungai yang berhulu di puncak Gunung Merapi telah dirusak dengan adanya penambangan pasir menggunakan bekhu. "Ini yang tidak boleh, karena akan merusak tatanan yang ada. Tanah yang kita duduki semua di bumi jangan dirusak, " tandasnya.
(jon/)











































