Demo di HI
Payung Hitam Kasus Soeharto
Senin, 15 Mei 2006 12:07 WIB
Jakarta - Payung sedianya melindungi pemakainya. Ini melambangkan hukum yang seharusnya memayungi masyarakatnya. Namun payung itu berwarna hitam kelam dalam kasus Soeharto.Sekitar 50 orang dari Jaringan Rakyat Miskin Kota melakukan aksi unjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta. Mereka menuntut diadilinya Soeharto yang dianggap sebagai koruptor terbesar di dunia.Massa Jaringan Rakyat Miskin Kota ini tiba di Bundaran Hotel Indonesia, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (15/5/2006) pukul 10.00 WIB. Unjuk rasa hanya berlangsung satu jam dan berakhir hingga pukul 11.00 WIB.Mereka membawa poster dan spanduk yang bertuliskan "Adili Soeharto dan kroninya, sita harta mereka," dengan lebar lima kali tujuh meter. Mereka datang sambil meneriakkan yel-yel dan menyanyikan "darah juang" dengan mengepalkan tangan kiri.Aksi mereka sempat menjadi perhatian para pengguna jalan yang melintas di kawasan Bundaran HI. Namun, aksi mereka yang berlangsung di pingir kolam ini tidak memacetkan kendaraan.Aksi juga diramaikan dengan atraksi pementasan seni teatrikal pantomim. Pemain pantomim membawa kendi dan payung warna hitam.Menurut Ketua Jaringan Rakyat Miskin Kota Wardah Hafidz, kendi itu melambangkan kesejahteraan rakyat dan payung melambangkan hukum yang seharusnya memayungi masyarakatnya."Kedua persoalan itu merupakan masalah yang sedang dihadapi oleh bangsa kita, makanya harus ada pembongkaran sistem," jelas Wardah.Dalam kesempatan tersebut, Wardah menjelaskan, pentingnya mengadili Soeharto yang telah menyelewengkan kekuasaan dengan melakukan praktik KKN yang dijalankankan keluarga dan kroninya. Menurut data global corruption report Transparansi Internasional, kekayaaan Soeharto ditaksir sekitar US$ 15 miliar hingga US$ 30 miliar atau setara dengan Rp 170,5 triliun hingga Rp 297,5 triliun.
(zal/)











































