Dedi Mulyadi Minta Pemerintah Intervensi soal Harga & Produksi Kedelai

Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Sabtu, 19 Feb 2022 15:28 WIB
Anggota Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi
Foto: Mei Amelia Rahmat/ detikcom
Jakarta -

Di tengah kelangkaan dan mahalnya minyak goreng, masyarakat Indonesia kembali dihadapkan dengan isu kedelai. Saat ini, kedelai yang semakin mahal dan langka di pasaran membuat sejumlah pedagang tahu dan tempe berencana menggelar aksi mogok produksi.

Menyoroti hal ini, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi meminta agar pemerintah segera mengambil langkah jangka pendek dan panjang. Terlebih isu kedelai kerap terjadi di Indonesia setiap tahunnya.

"Yang harus dilakukan pemerintah adalah mendorong agar jumlah produksi ditingkatkan, jangka pendek menyiapkan ketersediaan kedelai itu sendiri sesuai dengan kebutuhan pasar dengan melakukan intervensi karena ini adalah sebuah kebutuhan mendasar dari pangan rakyat," ujar Dedi dalam keterangan tertulis, Sabtu (19/2/2022).

Untuk mengatasi hal ini, ia juga mengimbau Kementerian Perdagangan segera melakukan langkah dalam mendorong ketersediaan kedelai di pasaran sekaligus menstabilkan harga. Sebab, kata Dedi, harga kedelai akan stabil jika kedelai ada dan mudah didapat oleh masyarakat.

"Kedelai di kita memiliki kualitas baik, dan itu rasanya enak dibanding yang impor. Tapi, sering kali untuk kepentingan tempe kurang diminati karena ukurannya dianggap kecil dibanding impor yang ukurannya besar. Itu yang mendorong pedagang menyukai kedelai impor," ungkapnya.

Menurut Dedi, minimnya produksi dalam negeri tak lepas dari kurangnya minat petani untuk menanam kedelai. Pasalnya, secara ekonomis harga kedelai masih jauh di bawah padi dan jagung. Dengan demikian, pemerintah perlu menyiapkan langkah strategis dalam mengatasinya.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian, lanjut Dedi, perlu membuat berbagai perencanaan. Mulai dari penanaman serentak, penyediaan lahan, bibit unggul sesuai kebutuhan pasar Indonesia, tenaga pendamping, hingga alat produksi pasca panen.

"Karena pascapanen harus ada mesin pemanas, mesin pemilahnya, kalau perlu disediakan karung kedelai. Karena salah satu problem di kita ini adalah karung dari petani bukan murni untuk kedelai tapi bekas. Kemudian kedelai tidak dalam keadaan bersih karena bercampur dengan bahan lain. Sehingga pembeli tidak tertarik lagi," katanya.

"Sehingga pemerintah harus intervensi. Karena kalau tidak ada intervensi sampai kapanpun kita akan impor," imbuhnya.

Terkait persoalan ini, Dedi menyampaikan DPR tidak memiliki kewenangan untuk melakukan langkah teknis di lapangan. Meski demikian, beberapa hari lalu pihaknya telah melakukan rapat gabungan, sayangnya Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tidak hadir sehingga rapat ditunda.

"Yang punya langkah itu kan kementerian sehingga di rapat kemarin kita minta menteri perdagangan, menteri perindustrian dan menteri pertanian duduk bersama bicara dengan DPR agar seluruh langkahnya kita dan publik mengetahui. Tapi kan kemarin Mendag tidak hadir, padahal Senin besok ada ancaman mogok," paparnya.

Ia pun menambahkan isu kedelai merupakan isu klasik yang terus terjadi setiap tahun, dan dibarengi dengan ancaman mogok para pedagang. Untuk itu, persoalan ini harus segera diatasi mulai dari mengetahui dan menyiapkan segala kebutuhan dasar produksi, baik perencanaan impor atau tanam lokal.

"Itu diperlukan langkah efektif dan nyata dari Kemendag dan Kementan. Sehingga misal ada kesepakatan intervensi tanam tapi harus dijamin ada yang membeli itu kedelainya. Sering kali petani mengalami kerugian karena menanam kedelai tapi dijual harga yang murah. Kita lihat banyak kedelai masih muda dibabat, dijualin untuk dimakan direbus," katanya.

Dedi berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah dan memberikan informasi kepada publik. Dengan demikian, tidak ada lagi persepsi saling menyalahkan terkait kelangkaan dan mahalnya harga kedelai di pasaran, yang membuat pedagang mengancam mogok produksi.

"Kemudian kita harapkan pada rapat nanti bisa bicara secara terbuka antara Kementan dan Kemendag jangan saling menyalahkan. Kita buat perencanaan untuk tahun depan agar isu tahunan kedelai ini tidak lagi terjadi," pungkas Dedi.

Simak Video 'Dedi Mulyadi Minta Produksi Kedelai Dalam Negeri Digas Biar Tak Impor!':

[Gambas:Video 20detik]



(akn/ega)