Firli Bahuri Buka Suara Soal Baliho yang Tampilkan Wajahnya

ADVERTISEMENT

Firli Bahuri Buka Suara Soal Baliho yang Tampilkan Wajahnya

Azhar Bagas Ramadhan - detikNews
Sabtu, 19 Feb 2022 09:35 WIB
Ketua KPK Firli Bahuri
Foto Firli Bahuri: Dok. Istimewa

Kritik ICW soal Mars KPK

Indonesia Watch Corruption (ICW) mengkritik himne dan mars KPK yang diciptakan oleh istri Ketua KPK Firli Bahuri, Ardina Safitri. ICW menduga ada konflik kepentingan atas pembuatan mars tersebut.

"Dengan kondisi seperti ini, tidak salah jika kemudian masyarakat menduga ada konflik kepentingan di balik pembuatan mars dan himne KPK tersebut. Sebagai insan KPK, semestinya Firli menghindari setiap kegiatan yang berpotensi memiliki benturan kepentingan," kata peneliti ICW Kurnia Ramadhana kepada wartawan, Jumat (18/2).

Kurnia mengatakan mars dan himne ini tak memiliki pengaruh terhadap indeks persepsi korupsi (CPI) hingga citra KPK. Katanya, hal ini hanya sebagian dari gimik belaka.

"Penting untuk dijadikan catatan, mars dan himne yang baru saja dibuat KPK tidak akan menaikkan Indeks Persepsi Korupsi Indonesia, berkontribusi bagi kerja KPK, dan memperbaiki citra buruk KPK di mata masyarakat. Praktis itu sekadar kegiatan seremonial dan gimik belaka," ujarnya.

Kritik Eks Pegawai KPK

Mantan pegawai KPK yang disingkirkan melalui Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) memberikan kritik atas hal itu. Mereka yang kini tergabung dalam IM57+ itu ikut buka suara.

"Terus terang saya kehabisan kata-kata atas tindakan Ketua KPK memilih lagu ciptaan istrinya menjadi himne KPK. KPK bukan perusahaan keluarga dan pemberantasan korupsi tidak perlu himne," ucap Ketua IM57+ Praswad Nugraha secara terpisah.

"Sangat ironis sekali, andai kita mau mendengar sedikit lebih jernih menggunakan hati nurani, tidak perlu sulit-sulit menciptakan lagu, karena Himne Pemberantasan Korupsi yang sejati ada di dalam jerit tangis derita rakyat korban bansos yang sampai saat ini tidak dituntaskan oleh KPK, tangis ribuan mahasiswa yang menjadi korban Aksi Reformasi Dikorupsi 2019, tangisan warga Desa Wadas, tangisan para korban PHK akibat krisis pandemi yang tidak bisa mencairkan THT-nya sampai dengan umur 56 tahun nanti, sudah lebih dari cukup untuk menyuarakan nyanyian penderitaan rakyat," imbuhnya.


(azh/zap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT