Pengampunan Soeharto
Momen Bersatunya Pro-Reformasi
Minggu, 14 Mei 2006 22:18 WIB
Jakarta - Wacana pengampunan terhadap Soeharto masih terus bergulir. Bagi kubu pro-reformasi, hal ini harus dijadikan momen untuk kembali menggalang kekuatan."Dulu proses reformasi lahir karena penindasan yang dilakukan Soeharto selama 32 tahun," kata Sekjen Jaringan Aktivis Pro Demokrasi, Ferry Juliantono kepada detikcom di Wisma Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Jl. Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (14/5/2006).Menurut Ferry, keinginan mengampuni Soeharto tanpa didahulukan proses pengadilan harus ditentang. Selain melukai rasa keadilan masyarakat, keputusan tersebut juga akan menimbulkan preseden buruk dalam sejarah hukum bangsa Indonesia. Anggapan bahwa seorang mantan presiden tidak bisa dipersalahkan akan semakin kuat.Tidak hanya itu, hal tersebut juga berarti mengunci rapat-rapat penegakan hukum terhadap kroni-kroni Soeharto. Pengampunan Soeharto tanpa proses pengadilan menunjukkan proses reformasi gagal total."Harus ada proses pengadilan terlebih dahulu baru kemudian diambil kebijakan lain, seperti pengampunan. Kita tidak ingin berlaku kejam terhadap seorang mantan kepala negara, tapi kita juga tidak mau menyakiti hati rakyat," tukas Ferry.Ditambahkan Ferry, alasan sakit bukan persoalan yang mendasar untuk dijadikan alasan tidak adanya proses pengadilan. Jika memang pemerintah benar-benar ingin menegakan hukum, pengadilan terhadap Soeharto bisa digelar secara in absentia.Ferry juga mengkritisi sikap pemerintah yang memutusakan untuk mengendapkan kasus Soeharto. Menurutnya, hal ini menunjukkan Presidan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sedang bingung. SBY ingin mengampuni Soeharto tapi dia juga tidak ingin dicap sebagai kroni mantan presiden kedua RI itu."Karena itu saya pikir, saat ini momen yang paling tepat bagi aktivis pro reformasi dan demokrasi untuk kembali bersatu. Kita harus menentang keinginan mengampuni Soeharto tanpa proses pengadilan terlebih dahulu," tutur Ferry.Selain Ferry, aktivis pro demokrasi dan reformasi lain yang juga hadir dalam pertemuan di wisma PMKRI itu adalah Judilherry Justam (Komite Waspada Orba), Chris Siner Key Timu (Petisi 50), Yopi Lasut, dan Budiman Sudjatmiko (Repdem). "Kita akan galang terus pertemuan seperti ini," tutup Ferry.
(fay/)











































