RUU APP Tsunami Kemanusiaan dan Rezim Kesusilaan
Sabtu, 13 Mei 2006 17:28 WIB
Jakarta -
Sejumlah tokoh mengecam rencana pengesahan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP). Kehadiran RUU ini dinilai mengancam keberagaman yang ada di masyarakat. Pemerintah pun dituding telah mencampuri persoalan-persoalan 'kamar tidur'.Pernyataan penolakan sejumlah tokoh ini dinyatakan dalam deklarasi Masyarakat Bhinneka Tunggal Ika, di Teater Utan Kayu, Jl Utan Kayu, Jakarta Timur, Sabtu (13/5/2006). Sejumlah tokoh hadir dan memberikan pernyataan penolakan mereka terhadap RUU tersebut.Putu Wijaya misalnya. Budayawan dari Bali ini menilai jika RUU ini disahkan, maka akan terjadi 'tsunami kemanusiaan', yang menurutnya jauh lebih berbahaya dari bencana tsunami yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004."Kita dihadapkan oleh tsunami yang dibuat manusia. Tapi kita masih bisa melawan, karena ini adalah tsunami buatan manusia," kata Putu.Meski kontroversi atas pengesahan RUU ini cukup marak terjadi di masyarakat, Putu berharap kalangan penolak RUU APP bisa menghargai mereka yang mendukung RUU tersebut disahkan."Kita masih tetap harus menghargai mereka, karena mereka adalah bagian dari kita, meski mereka memusuhi kita. Semoga pintu hati mereka suatu saat akan terbuka," ungkapnya.Sependapat dengan Putu. Budayawan Goenawan Mohammad mengkhawatirkan terjadinya perpecahan dalam masyarakat. Perpecahan yang ditakutkan Goenawan bukan sekedar perpecahan wilayah semata, namun lebih jauh perpecahan secara kemanusiaan."Kita tidak ingin tragedi yang terjadi di Yugoslavia terjadi kembali di negeri ini. Namun potensi itu ada jika keberagaman yang ada diberangus dengan adanya RUU ini," tutur Goenawan yang juga wartawan senior ini.Aktivis perempuan Nahdlatul Ulama (NU) Musdah Mulia menyatakan pemerintahan di negeri ini telah bergeser dari rezim yang otoriter menjadi rezim kesusilaan.Dia mencontohkan munculnya berbagai perda yang mengatur persoalan kesusilaan di berbagai daerah. Padahal, menurut dia, adanya otonomi daerah adalah untuk membuat daerah-daerah menjadi maju dalam mengelola masyarakatnya."Tapi yang banyak diurus malah masalah-masalah kesusilaan. Begitu juga secara nasional, ada RUU APP. What's wrong with my country," keluh dia.
(fjr/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































