Duduk Perkara Dirut Krakatau Steel Diteriaki 'Maling Teriak Maling' di DPR

Gibran - detikNews
Selasa, 15 Feb 2022 11:13 WIB
Pembangunan gedung baru untuk DPR RI menuai kritikan berbagai pihak walaupun Ketua DPR Setya Novanto menyebut Presiden Jokowi telah setuju pembangunan tersebut. Tetapi Presiden Jokowi belum teken Perpres tentang pembangunan Gedung DPR. Lamhot Aritonang/detikcom.
Gedung DPR RI (Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta -

Pernyataan 'jangan maling teriak maling' menjadi awal pengusiran Dirut Krakatau Steel Silmy Karim oleh Wakil Ketua Komisi VII DPR Bambang Haryadi. Bambang menjelaskan maksud 'maling teriak maling' itu.

"Itu maknanya sebuah kesesuaian antara yang disampaikan dan fakta. Kita ingin ada keselarasan dengan semangat yang kita ingin bangun ke depan. Ini terkesan hanya pura-pura," kata Bambang kepada wartawan, Selasa (15/2/2022).

Bambang menjelaskan konteks dari ucapan 'jangan maling teriak maling'. Dia mengungkit semangat Presiden Joko Widodo (Jokowi) menguatkan industri baja dalam negeri tapi tidak mendapat dukungan.

"Konteksnya, ketika kita ingin mendukung dan merealisasikan komitmen Presiden Jokowi untuk menguatkan industri baja dalam negeri, karena Presiden tahu Indonesia memiliki bahan baku besi dan baja yang sangat berlimpah. Tapi ini tidak didukung peningkatan dunia industri di baja itu sendiri," kata Bambang.

"Ini terbalik, malah terjadi peningkatan yang luar biasa impor baja dari luar negeri beberapa bulan terakhir," imbuh dia.

Bambang mengungkit kembali pernyataannya soal fasilitas pabrik besi baja atau blast furnace Krakatau Steel. Dia menyebut Indonesia baru memiliki satu blast furnace yang belum sesuai kebutuhan untuk penguatan industri baja namun itu pun, katanya, sudah disetop.

"Penghentian blast furnace milik milik Krakatau Steel itu tidak sejalan dengan tujuan kita untuk menguatkan industri baja dalam negeri. Bahkan Dirjen Ilmate mengatakan kita butuh lima blast furnace untuk mengurangi impor. Kita baru punya satu dan baru beroperasi 2019 sudah langsung disetop sekarang. Ini kan tidak nyambung dengan semangat Presiden untuk penguatan industri baja dalam negeri," kata Bambang.

Bambang tak setuju dalih 'tidak efisien' hingga 'mahal' menjadi alasan penghentian blast furnace dan seharusnya ada solusi. Dia memberi contoh pembangunan jalan tol hingga bandara baru di daerah-daerah.

"Saya kasih contoh, Bapak Presiden kita telah membangun infrastruktur di daerah dengan membangun jalan tol. Itu kalau hanya kita melihat dari sudut bisnis jangka pendek udah pasti rugi, tapi beliau berpikir untuk jangka panjang, untuk pemerataan ekonomi, kemudahan masyarakat bertransportasi, mengakses daerah satu dan lain. Kenapa itu Jasa Marga tidak mengeluh?" katanya.

"Contoh lagi bikin bandara di daerah-daerah, tidak serta-merta langsung ramai penumpangnya. Harus pelan-pelan. Kenapa itu Angkasa Pura tidak mengeluh?" kata Bambang.

Simak video 'Fakta-fakta Dirut Krakatau Steel Diusir dari Rapat dengan DPR':

[Gambas:Video 20detik]



(gbr/tor)