Pemerintah Tidak Kompak, Yusril Sengaja Balas Jasa ke Soeharto

Pemerintah Tidak Kompak, Yusril Sengaja Balas Jasa ke Soeharto

- detikNews
Jumat, 12 Mei 2006 17:45 WIB
Jakarta - Pemerintah dinilai tidak kompak dalam menyikapi kasus mantan Presiden Soeharto. Hal ini terlihat jelas dari pernyataan Mensesneg Yusril Ihza Mehendra dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang bertolak belakang."Pemerintahan tidak kompak. Ini namanya bukan pemerintahan koalisi, tetapi pemerintahan konspirasi. Kalau pemerintahan koalisi, teken kontrak atas platform sama. Tetapi sekarang platform antara SBY dengan orang-orang di sekitarnya berbeda. Jadi tidak kompak," kata pengamat politik UI Arbi Sanit di Gedung DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (12/5/2006).Lebih jauh Arbi berpendapat, rencana penghentian peradilan terhadap Soeharto tidak terlepas dari peran orang-orang yang pernah mendapat jasa dari penguasa Orde Baru ini. "Yusril, Kalla dan Ical adalah orang yang dapat jasa dari Soeharto," katanya.Dalam padangan Arbi, tindakan Yusril yang terkesan pro-Soeharto dinilainya sebagai tindakan wajar. Yusril dulu penulis pidato Soeharto dan dia yang menyelamatkan Soeharto saat-saat jatuh. "Jasanya terhadap Soeharto besar. Soeharto berjasa terhadap Yusril dan Yusril ingin balas jasa kepada Soeharto," tambah Arbi.Sementara ketika ditanya soal sikap SBY yang dinilai peragu dan tidak segera mengambil keputusan, Arbi menilai peragu memang sudah menjadi kepribadian SBY. "Tapi untuk kali ini keraguan SBY saya kira tepat. Dia selamat dari jepitan kiri dan kanan. Tetapi untuk kasus lain, dia salah," katanya.Alasan menunda mengumumkan kasus ini dengan alasan pengendapan, Arbi berpendapat, ada dua hal yang mendasarinya. "Bisa jadi kasus ini diambangkan atau bisa jadi SBY menunggu saatnya, apakah Soeharto akan diadili atau dibebaskan," tandasnya. (jon/)


Berita Terkait