Hindari Letusan Merapi, Warga Sembelih 4 Kambing
Jumat, 12 Mei 2006 15:18 WIB
Yogyakarta - Cara orang menghindari bencana memang beda-beda. Ratusan warga di lereng Merapi memilih menggelar doa tolak bala Ruwatan Merapi agar terhindar dari letusan Merapi. Mereka menyembelih empat ekor kambing dan melepas lima ekor kambing. Acara yang digelar warga Partai Pelopor Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia (P3KBI) hari ini, Jumat (12/5/2006) di dusun Tunggul Wulung, Desa Girikerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Tempat yang dipakai acara itu sebelumnya adalah sebuah dusun yang ditinggalkan penghuninya akibat letusan Merapi tahun 1961.Ruwatan Merapi tidak hanya dihadiri warga Sleman dan Yogyakarta saja, tetapi juga warga lereng Merapi lainnya seperti Klaten, Magelang, dan Boyolali. Mereka datang berbondong-bondong menggunakan belasan truk, minibus, kendaraan pribadi, dan sepeda motor yang diparkir di pinggir dusun sekitar 500 meter dari lokasi.Layaknya sebuah partai, sebelum Ruwatan Merapi digelar, peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Padamu Negeri dan mars P3KBI. Semua peserta mengenakan seragam partai jas warna merah, peci hitam dan celana panjang putih. Ritual dipimpin langsung oleh Presiden P3KBI, Arif Kusno Saputro.Sebelum ruwatan digelar, perwakilan peserta menyerahkan berbagai sesaji yang dibawa dan ditaruhdi tempat yan disediakan. Sesaji itu dibuat dengan biaya patungan semua peserta.Sesaji itu, antara lain nasi tumpeng 4 macam lengkap dengan ingkung ayam, aneka macam tanaman hasil bumi seperti padi, jagung, ketela dan umbi-umbian, buah-buahan dan makanan jajanan pasar. Selain itu, bubur empat macam, air kelapa muda, teh pahit, kopi pahit, air putih, susu, daun sirih lengkap dan bunga setaman. Sebanyak 9 ekor kambing kendhit (berbulu hitam, putih atau coklat melingkar di bagian perut seperti ikat pinggang-red) juga menjadi persembahan. Semua sesaji itu dipersembahkan untuk penguasa Gunung Merapi beserta anak buahnya agar tidak jadi meletus. Setelah dilakukan doa bersama yang dipimpin Arif Kusno, kemudian dilakukan penyembelihan empat ekor kambing ke semua titik penjuru arah angin. Kepala, ekor, kaki dan jerohan ditanam di tanah sekitar Tunggul Wulung. Lima ekor lainnya dilepaskan dan menjadi rebutan warga sekitar.
(asy/)











































