DPR Minta Diusut
Ahmadinejad dan Karpet Merah
Kamis, 11 Mei 2006 16:06 WIB
Jakarta - Tak seperti biasanya, Kamis (11/5/2006) ini ada karpet merah membentang di Gedung Nusantara III Kompleks Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta. Tapi apa lacur, belum sempat dipakai, karpet itu mesti digulung lagi. Penyebabnya, Mahmoud Ahmadinejad batal bertamu."Kasus ini harus diusut tuntas. Apakah ada kesalahan dari sekuriti Indonesia atau yang lain," kata Wakil Ketua DPR Zaenal Ma'arif tak bisa menyembunyikan kekecewaannya, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (11/5/2006).Zaenal pantas geregetan karena Ahmadinejad batal bersilaturahmi ke Senayan sesuai jadwal pukul 13.30 WIB. Soalnya, pihak DPR sudah bersiap-siap sejak pagi hari menyambut presiden pemberani itu. Persiapan itu misalnya saja karpet merah sudah digelar sejak pukul 10.00 WIB. Keamanan juga ekstraketat sejak pagi hari, lain dari biasanya. Sterilisasi dilakukan. Pasukan keamanan dalam (pamdal) juga telah siaga dengan latihan membentuk barisan pengaman, untuk memisahkan tamu negara dan penonton. Buku tamu juga telah disiapkan.Kunjungan Ahmadinejad akan 'dilayani' oleh pimpinan DPR, pimpinan fraksi dan pimpinan komisi. Beberapa di antara mereka bahkan telah menyiapkan surat pernyataan untuk diserahkan pada pria bercambang lebat itu. Untuk menunjukkan keseriusan mereka menyambut Presiden Iran, para pimpinan DPR itu telah hadir di ruang pimpinan di Gedung Nusantara III, setengah jam sebelum Ahmadinejad dijadwalkan datang. Ini tentu saja berbeda dengan rapat-rapat di DPR yang biasanya serba ngaret.Tapi segala persiapan itu berantakan. Karpet merah batal diinjak Ahmadinejad. Pasukan Pamdal juga tidak ada kesempatan mengamankan tamu negara yang dinanti-nanti. Itu semua karena Paspampres melarang Ahmadinejad datang ke DPR dengan alasan keamanan. Penyebabnya, ada demo 500-an orang menolak RUU APP di gerbang depan DPR di Jalan Gatot Subroto. "DPR secara kelembagaan terpukul," sesal Zaenal.Menurutnya, larangan itu bisa berdampak buruk bagi citra Indonesia, sebab seolah-olah ada kesan Indonesia tidak aman. Karena itulah pihaknya minta hal itu diusut. "Pimpinan dewan dan seluruh fraksi merasa kecewa. Kita akan inventaris semuanya," kata wong Solo ini.Zaenal tidak habis pikir pada larangan itu karena tempat Ahmadinejad menginap di Hotel Mulia, sangat dekat dengan DPR. "Jika ada demo di depan, kan bisa lewat belakang," katanya. Asal tahu saja, Hotel Mulia dengan pintu belakang DPR hanya berjarak 200 meter saja.Untuk mengusir kemasygulan itu, akhirnya Zaenal dkk menggelar rapat di ruang rapat pimpinan membahas hal itu.
(nrl/)











































