Taiwan Merdeka, Amerika Perang!
Kamis, 11 Mei 2006 15:35 WIB
Washington - Meski menjadi pemasok utama persenjataan militer Taiwan, namun pemerintah Amerika Serikat (AS) tegas-tegas menolak kemerdekaan Taiwan. Pasalnya AS akan terseret dalam perang antara Taiwan dan Cina jika Taiwan sampai memproklamirkan kemerdekaan.Demikian disampaikan Deputi Menteri Luar Negeri AS Robert Zoellick seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (11/5/2006).Pernyataan itu dilontarkan petinggi Gedung Putih tersebut dalam dengar pendapat di Kongres. Para anggota parlemen AS memprotes keputusan pemerintah AS yang tidak mengizinkan Presiden Taiwan Chen Shui-bian transit di New York atau San Francisco dalam lawatannya ke Amerika Latin pekan ini.Republikan Dana Rohrabacher menuding, keputusan itu semata-mata untuk memenuhi keinginan para diktator dan kroni-kroninya di Cina. Namun Zoellick membantah keras tudingan itu. Ditegaskannya, pemerintah Cina tidak punya pengaruh apapun atas keputusan itu. "Kami mengambil keputusan kami sendiri. Kami tidak merundingkannya dengan Cina," tandas Zoellick.Menurut orang nomor dua di Departemen Luar Negeri AS itu, Washington harus sangat hati-hati dalam menyeimbangkan tindakannya antara Taiwan dan Cina. "Keseimbangan itu adalah bahwa kita ingin mendukung Taiwan namun kita juga tidak mendorong mereka yang mencoba bergerak menuju kemerdekaan," kata Zoellick."Karena perlu saya jelaskan, kemerdekaan berarti perang. Dan itu artinya melibatkan prajurit AS, pelaut, penerbang dan marinir," imbuhnya.Taiwan melepaskan diri dari Cina pada akhir perang saudara tahun 1949 silam. Pemerintah Beijing tetap menganggap Taiwan sebagai provinsinya yang membangkang. Cina berulang kali mengancam akan menyerang Taiwan jika pulau itu sampai memproklamirkan kemerdekaan.Hingga saat ini AS masih tetap menjadi pemasok utama persenjataan Taiwan dan berkomitmen untuk membantu pulau itu mempertahankan diri.
(ita/)











































