Duo Gundul di Seputar SBY

Catatan Ringan (2-Habis)

Duo Gundul di Seputar SBY

- detikNews
Kamis, 11 Mei 2006 12:39 WIB
Duo Gundul di Seputar SBY
Abu Dhabi - Di atas pesawat Kepresidenan Airbus A-330 Garuda Indonesia sepanjang lawatan Presiden SBY ke Timur Tengah dari 25 April hingga 4 Mei 2006, terkadang keisengan pun muncul. Termasuk munculnya julukan 'Duo Gundul di Seputar SBY'.Adalah Pemimpin Redaksi majalah Tempo, Toriq Hadad, yang mencuatkan julukan itu. Saya pun mengamini julukan yang sangat pas itu. Duo gundul? Ya. Dua-duanya memang gundul dul. Kepalanya plontos tos. Tanpa rambut.Gundul yang satu bernama Lai Teng Piaw. Dia, seperti yang sudah saya ceritakan di catatan ringan bagian 1, adalah juru pijat Presiden SBY. Penampilannya necis dan bersih. Kepalanya, ya itu tadi, gundul dul. Umurnya 51 tahun. Haji Piaw, begitu dia akrab dipanggil. Piaw keturunan Tionghoa Pontianak beragama Islam. Meski akrab dipanggil Haji Piaw, namun dia mengaku belum menunaikan ibadah haji. Kalau umroh sudah dua kali. Alhamdullilah," ujar Piaw. Piaw mulai memijat SBY sejak 2004. Adalah kakak ipar SBY, Mayjen Erwin Sujono, Pangdam Tangjungpura, Kalimantan, yang mengenalkan Piaw ke SBY. Erwin sendiri saat ini sudah kembali ke Jakarta menjabat sebagai Pangkostrad."Alhamdulillah Presiden cocok dengan pijatan saya," kata Piaw. Piaw sendiri orangnya sangat sederhana. Meski sebagai pemijat presiden, Piaw tergolong enteng tangan. Siapa pun, dari menteri, wartawan, hingga staf biasa pun, akan diladeninya untuk dipijat. Dijamin cespleng. Gratis pula.Gundul yang kedua adalah M Anis. Cak Anis, begitu kami akrab memanggilnya. Kami memanggil cak, karena Anis orang Surabaya. Anis adalah Redaktur Pelaksana situs resmi kepresidenan, www.presidensby.info. Di tangan Cak Anis, situs resmi kepresidenan itu berjalan dengan baik. Updating beritanya pun mengalir. Ya maklum saja, sepak terjang Cak Anis di dunia jurnalistik cukup teruji.Cak Anis tercatat pernah menjadi wartawan harian sore Surabaya Post. Kemudian lelaki gundul dul ini bergabung dengan tabloid detik milik Eros Djarot. Sayangnya tabloid detik hanya berusia 1 tahun 3 bulan lantaran dibreidel pada masa Soeharto berkuasa. Terakhir, sebelum direkrut Andi Mallarangeng untuk mengelola situs resmi kepresidenan, Cak Anis sempat beberapa bulan menjadi Redaktur Pelaksana harian Suara Indonesia di Surabaya. Kini Cak Anis sehari-hari berkantor di Bina Graha. Ia menempati ruang kerja yang tak lain adalah berkas ruang kerja Soeharto semasa menjadi presiden."Di saat tidak ada pekerjaan, di ruang ini, saya sering membayangkan, bagaimana dulu Pak Harto bertindak sebagai presiden," cerita Cak Anis diimbuhi derai tawa. Foto:Haji Piaw dan Cak Anis (atas-bawah) (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads