Catatan Ringan (1)
Rahasia 5:5 SBY dan Lai Teng Piaw
Kamis, 11 Mei 2006 12:20 WIB
Abu Dhabi - Sore itu, Selasa (2//5/2006) sekitar pukul 15.00, Presiden SBY memasuki ruangan jumpa pers di lantai 3 Hotel Emirates, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, dengan sumringah. SBY membuka pembicaraan dengan santai, menyangkut kebugaran badan. "Masih dalam kondisi 5:5 kan?" tanya SBY.Semua yang berada di ruangan, wartawan, para menteri, anggota DPR, terdiam. Tidak mengerti dengan maksud pertanyaan itu. "Kalau di tentara istilah 5:5 itu artinya masih dalam keadaan bugar. Kalau 3:3 artinya kondisi sudah loyo," jelas SBY.Dengan agak memaksa, sebagian orang menjawab, "Kami masih 5:5, Pak!" Padahal, aslinya, kalau mau jujur, kondisi sebagian orang sudah 3:3. Loyo. Maklum, mengikuti lawatan Presiden SBY ke Timur Tengah, harus melakoni jadwal yang sangat padat. Belum lagi jadwal tidur yang sangat sedikit.Saat kesempatan bertanya yang diberikan, saya mendapat giliran paling buncit. Dari 4 pertanyaan yang akan saya ajukan, 3 sudah ditanyakan oleh Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Toriq Hadad, Pemimpin Redaksi Padang Express Zailli Asril dan wartawan Liputan 6 SCTV Imelda Sari.Satu pertanyaan yang tersisa dalam catatan saya itu, ringan saja. Berkaitan dengan 5:5 itu tadi. "Pak Presiden, bagaimana rahasia Bapak menjaga agar kondisi tetap 5:5. Padahal, kami kami yang lebih muda ini kondisinya sudah 3:3," tanya saya.Pertanyaan saya itu ternyata mengubah suasana. Maklumlah. Tiga kolega saya sebelumnya menanyakan hal-hal yang tergolong berat. Mulai dari bagaimana pemerintah menindaklanjuti hasil-hasil lawatan ke Timur Tengah, hingga soal buruh yang akan menggelar demo besar. SBY menjawab dengan serius, kadang terlihat dahinya mengerut.Pertanyaan saya itu mencairkan suasana. Semua yang ada di ruangan itu tertawa cerah. SBY yang semula wajah berkerut, berubah menjadi sumringah. "Saya rajin minum vitamin," kata SBY membuka rahasianya. "Juga olahraga ringan di pagi hari," imbuhnya.SBY lalu menyebut nama Lai Teng Piaw sebagai salah satu sosok yang punya andil agar kondisi SBY selalu 5:5. "Saudara-saudara boleh kok memanfaatkan Haji Piaw," kata SBY. Para wartawan pun serentak menjawab: Sudah...!!!Lai Teng Piaw akrab dipanggil Haji Piaw. Aslinya dia belum haji. "Alhamdulillah saya sudah umroh dua kali," kata Piaw. Mengapa Piaw punya andil menjaga kebugaran SBY? Jawabannya adalah terletak pada pijatannya yang ampuh.Ya, Piaw memang juru pijat Presiden SBY. Piaw harus selalu siap memijat SBY, mengendorkan ketegangan urat syaraf. Di samping tim dokter kepresidenan, Piaw juga selalu disertaikan dalam lawatan panjang SBY ke luar negeri. Di dalam buku perjalanan, nama Lai Teng Piaw diberi embel-embel jabatan Urusan Dalam. "Itu maksudnya urusan tenaga dalam," ujar seorang rekan wartawan.Meskipun Piaw itu pemijat presiden, namun lelaki asli Pontianak itu sangat enteng tangan. Piaw tak pernah menampik siapa pun yang minta dipijatnya. Hampir semua wartawan, di atas pesawat, selalu antre dipijatnya. Kadang Piaw juga menggunakan jurus totok. Leher yang kaku jadi lemas, mata pun terang benderang. Kondisi jadi 5:5. Begitulah yang saya rasakan selepas dipijat Piaw. Saya juga termasuk pelanggan tetap Piaw. September 2005 lalu, saat mengikuti Presiden SBY ke Amerika Serikat, saya merasakan pertama kalinya pijatan Piaw. Itu setelah saya melihat Pemimpin Redaksi Liputan 6 SCTV Rosiana Silalahi, begitu menikmati dipijat Piaw. Usai dipijat Piaw, Rosi pun terlihat tertidur pulas.Piaw memang pemijat ampuh. "Ya reputasi Piaw memang murni pemijat. Bukan pembisik," ujar seorang staf Presiden SBY.Foto:SBY dipijat Haji Piaw
(nrl/)











































