Pada hari Senin pertengahan bulan Januari 2022 penulis kedatangan tamu Prof. Eriyatno ( IPB ), sebagai senior dan sahabat yang saat ini beliau lagi merencanakan membuat cluster industri pangan halal di Bogor. Beliau menyarankan saya untuk menulis tentang halal. Allah Swt. menghalalkan jenis makanan tertentu pasti ada hikmah dan manfaatnya. Dengan mengkonsumsi makanan yang halal, ada beberapa manfaat yang kita peroleh, antara lain:
* Mendapat rida Allah karena telah mentaati perintah-Nya dalam memilih jenis makanan dan minuman yang halal.
* Terjaga kesehatannya karena setiap makanan dan minuman yang dikonsumsi bergizi dan baik bagi kesehatan badan ( thoyib ).
* Memiliki akhlakul karimah karena setiap makanan dan minuman yang dikonsumsi akan berubah menjadi tenaga yang digunakan untuk beraktivitas dan beribadah.
Ketiga manfaat ini didapatkan ketika kita mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan thoyib. Untuk itu kita simak firman Allah Swt. pada surah Abasa ayat 24 yang berbunyi, " Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya."
Ayat ini jelas mempertegas agar manusia dalam mengkonsumsi makanan harus memilih yang sesuai ( halal dan thoyib ).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tubuh sehat itu dimulai dari pencernaan atau perut, yang organ ini harus sehat. Jika perut bermasalah karena banyak tertimbunnya karbohidrat ( menjadi glukose ), kurang serat dan tercampur dengan bahan kimia sintetis, maka perut menjadi sumber masalah. Tahukah kita bahwa di dalam perut ada sekitat 3 ribu enzim dan semuanya bekerja sepanjang hari. Semua enzim itu mengatur sekitar 25 ribu jenis reaksi kimia. Jika ada satu bermasalah yang lain akan bermasalah karena tubuh kita merupakan satu kesatuan.
Apa penyebab enzim kita bermasalah? Karena seringnya tubuh kita ini dimasuki bahan-bahan makanan "oplosan". Setiap produk olahan yang menggunakan bahan kimia, berupa pengawet, penyedap, dan perisa akan mengganggu enzim, termasuk obat-obatan kimia sintetis.
Perintah memilih makanan makin mendapatkan maknanya. Para ahli nutrisi juga menganjurkan agar dalam sehari ada makanan mentah yang kita konsumsi seperti buah-buahan. Hal ini akan menjaga supaya enzim tetap aman. Makanan olahan dapat mengganggu sistem kerja enzim, oleh karena itu seimbangkan dengan makanan mentah. Adapun Makanan halal dan thoyib merupakan keniscayaan agar tubuh kita tetap sehat. Perintah Sang Pencipta dan contoh yang diberikan Rasulullah Saw. dalam kaitan makanan dan minuman akan memberikan tuntunan hidup sehat. Tidak ada yang sia-sia apa-apa yang diperintahkan-Nya khususnya untuk makanan. Jika kita memakan sesuatu yang haram maka ada beberapa resiko seperti :
Pertama, energi tubuh yang lahir dari makanan haram cenderung untuk dipakai maksiat. Sahabat mengatakan, "Siapa saja yang makan makanan yang haram, maka bermaksiatlah anggota tubuhnya, mau tidak mau." Pantas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyatakan, "Tidaklah yang baik itu mendatangkan sesuatu kecuali yang baik pula" (HR al-Bukhari dan Muslim).
Kedua, terhalangnya doa. Hal itu berdasarkan pesan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam kepada sahabat Sa'd radliyallahu 'anhu. Wahai Sa'd, perbaikilah makananmu, niscaya doamu mustajab. Demi Dzat yang menggenggam jiwa Muhammad, sesungguhnya seorang hamba yang melemparkan satu suap makanan yang haram ke dalam perutnya, maka tidak diterima amalnya selama empat puluh hari." Selain makanan yang baik, amal perbuatan yang baik dan ketaatan secara umum juga dapat menjadi pintu terkabulnya doa.
Ketiga, sulitnya menerima ilmu Allah. Ketahuilah ilmu adalah cahaya, sedangkan cahaya tidak akan diberikan kepada ahli maksiat. Makanan tak halal, kemaksiatan, dan perbuatan dosa secara umum juga berdampak pada malasnya beribadah, sebagaimana yang pernah dirasakan oleh Imam Sufyan al-Tsauri, "Aku terhalang menunaikan qiyamullail selama lima bulan karena satu dosa yang telah aku perbuat."
Keempat, ancaman di akhirat dalam bentuk siksa api neraka. Ancaman ini jelas disampaikan dalam Al-Qur'an dan hadits. Di antaranya ancaman api neraka bagi orang yang makan harta anak yatim dan harta riba. "Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka), (QS an-Nisa' [4]: 10). "Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya," (QS Al-Baqarah [2]: 275). Ancaman siksa neraka yang bersifat umum akibat makanan tak halal juga disampaikan Rasulullah Saw. "Setiap daging dan darah yang tumbuh dari perkara haram, maka neraka lebih utama terhadap keduanya," (HR Al-Thabrani).
Penulis mengajak para usahawan, bergeraklah di bisnis pangan yang halal dan thoyib. Langkah ini merupakan ibadah dalam mempermudah masyarakat muslim mendapatkan bahan makanan dan minuman sesuai keyakinannya. Mengkonsumsi barang haram akan membentuk hati yang keras dan enggan menerima sesuatu yang benar. Jika kita menginginkan anak cucu menjadi pemimpin yang adil, maka mulai bayi berikanlah makanan dan minuman yang halal. Sebaliknya barang haram akan melahirkan pemimpin zalim, bermaksiat dan bisa berakhir sebagai pemimpin korup.
Betapa nikmatnya saat kita mentaati perintah-Nya dalam hal konsumsi makanan halal dan thoyib serta menjauhi larangan mengkonsumsi yang haram. Maka jauhilah perkataan yang sering diperbincangkan, " Mencari yang haram saja susah, apalagi mencari yang halal." Hal ini terucap dari seorang manusia yang sudah terkikis imannya. Semoga kita mendapatkan kekuatan dari-Nya untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Aunur Rofiq
Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025
Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)