Ditinggal Mudik Pengungsi Merapi, Pos Keputran Dikosongkan

Ditinggal Mudik Pengungsi Merapi, Pos Keputran Dikosongkan

- detikNews
Rabu, 10 Mei 2006 18:31 WIB
Solo - Kejenuhan dan beban hidup selama di pengungsian membuat warga lereng Merapi yang mengungsi semakin banyak yang meninggalkan barak pengungsian. Di Pos Pengungsian Keputran, Kemalang, Klaten, 964 orang memilih nekat kembali ke rumah masing-masing. Mereka adalah warga Desa Tegalmulyo, desa tertinggi yang masuk daerah Klaten yang menetap di lereng Merapi. Kepulangan secara serentak itu dilakukan Selasa malam tanggal 9 Mei. Para petugas dari satuan pelaksana penanganan bencana (Satlak PB) Merapi Kabupaten Klaten, tidak mampu menahan mereka. Berbagai alasan dikemukakan warga untuk tetap pulang. Ada yang mengaku jenuh setelah tiga pekan menghuni barak pengungsian, ada yang mengaku harus mengurus tanaman dan hewan yang telah lama ditinggalkan, ada pula yang mengeluhkan tingginya biaya hidup selama di pengungsian. Pos tersebut memang berada di dekat pasar. Selain banyak keramaian, juga banyak pedagang menjajakan makanan di sekitar pos pengungsian. Beberapa waktu lalu seorang ibu pengungsi mengeluh dalam sehari harus mengeluarkan uang tidak kurang dari Rp 5.000 untuk biaya jajan anak-anaknya. Berbagai alasan inilah yang menyebabkan mereka nekat. Karena sulit ditahan maka akhirnya Selasa malam itu pula mereka diantar dengan truk yang disediakan oleh Satlak PB Merapi Kabupaten Klaten. Pos Pengungsian Keputran sebelumnya dihuni oleh 986 warga. Setelah 964 pengungsi nekat pulang, mulai Rabu (10/5/2006) ini Satlak PB Merapi menggabungkan sisa pengungsi yang bertahan ke Pos Pengungsian Dompol, tidak jauh dari Keputran. Mereka digabungkan dengan 937 warga Desa Sidorejo. Sekretaris Harian Satlak PB Merapi Kabupaten Klaten, Eko Medi Sukasto membenarkan adanya kepulangan warga pengungsi tersebut. Satlak mengaku tidak mampu menahan desakan warga. Karena itu pihaknya menyediakan angkutan mengingat kepulangan itu dilakukan pukul 20.00 WIB yang gelap serta kondisi jalan yang licin dan rusak. "Sebetulnya kami tidak mengizinkan karena hingga saat ini kita belum dapat memastikan apakah kondisi Merapi sudah cukup aman bagi warga penghuni lerengnya. Namun mereka tetap bersikeras sehingga kami tidak bisa menahannya lagi," ujar Eko ketika ditemui di Pos Pengungsian Dompol. Dia berharap kenekatan itu tidak diikuti warga pengungsi lainnya yang sekarang masih bertahan mengungsi. Adapun keputusan menggabungkan pengungsi di satu pos, kata Eko, adalah untuk efisiensi pelayanan. "Agar kami bisa lebih terkonsentrasi di satu tempat, lagipula jumlahnya hanya sedikit," lanjutnya. Dengan dikosongkannya Pos Keputran itu maka di Klaten saat ini terdapat dua pos pengungsian yang ditinggalkan pengungsi. Sebelumnya 35 warga Desa Balerante yang diungsikan di Pos Ngemplakseneng, Manisrenggo, Klaten, juga memilih kembali pulang. Hal serupa juga terjadi di Pos Kecamatan Selo, Boyolali. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads