Pemulung ini Ternyata Penjaga Seni Akulturasi Tionghoa 'Terakhir'

ADVERTISEMENT

Pemulung ini Ternyata Penjaga Seni Akulturasi Tionghoa 'Terakhir'

Khairunnisa Adinda Kinanti - detikNews
Selasa, 01 Feb 2022 06:30 WIB
Jakarta -

Benda menyerupai biola sebagai pengiring musik ondel-ondel itu bernama konghayan. Dalam gambang kromong, kesenian khas Jakarta yang lain, ada tiga jenis instrumen yang mirip dengan koghayan tetapi tidak sama bunyinya.

Oen Sin Yang (71) menjelaskan, sebenarnya konghayan merupakan gabungan dari Sukong yang bernada rendah dengan tehyan yang memiliki nada tinggi.

Goyong atau panggilan lain dari Oen Sin Yang bercerita, gambang kromong adalah akulturasi dari dua budaya yang berbeda: Betawi dan Tionghoa. Anak maestro seni olah nada itu mempelajari langsung cara bermain setiap peralatan gambang kromong. Menurutnya, penggabungan dua jenis alat musik itu menciptakan ritme yang apik.

Oen Tjin Eng, pemerhati budaya Tionghoa di Tangerang pun mengamini pendapat Goyong. Menyoal asal-muasal gambang kromong, kata Oen Tjin Eng, dulunya merupakan perpaduan alat musik gesek dan pukul.

"Gambang kromong merupakan akulturasi budaya. Pertamanya itu tadinya kan guzheng dan yangqin. Guzheng itu semacam kecapi. Sama yangqin itu yang dipukul. Kalau gambang kan dari kayu. Sementara, kromong itu kan dari semacam kentongan," ungkap Oen Tjin Eng dalam program Sosok.

"Pak Goyong itu kan bapaknya Oen Oen Hok yang punya gambang kromong. Punya istri, namanya Masna atau Pangki Maestro gambang kromong. Jadi Goyong mungkin keturunan seniman dari bapaknya," imbuhnya.

Lahir dan besar di lingkungan seniman tradisional membuat Goyong mahir bermain semua alat musik itu. Bahkan, Goyong pun ahli membuat salah satu instrumen perlengkapan gambang kromong, tehyan.

"Untuk bikin tehyan, saya nyari barang-barang bekas yang kebuang. Batok kelapa saya nyari, kayunya juga saya cari. Kemudian pernis untuk ngecat-nya, " jelas Goyong.

Masa keemasan kelompok gambang kromong milik Goyong yang mengantarnya ke berbagai wilayah di Indonesia hingga Australia, tidak lagi ada bekasnya. Kini, seniman gambang kromong Tionghoa ini hidup bukan dari karya seni melainkan dari memulung.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia harus berjalan kaki dari rumah warisan orang tuanya menuju sungai. Di sepanjang aliran kali Cisedane, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Goyong mengumpulkan sampah plastik untuk dijual ke pengepul.

"Saya kalau nggak ada acara (yang harus diisi), saya nyari kerompongan, bawa karung. Kalau ada acara, saya libur nyari kerompongan, lalu saya main. Berhubung ini sekarang pandemi, dua tahun saya nggak main," ujar Goyong.

"Kalau lagu-lagu klasik tuh Poblin Pe Pan Tau, Phoa Silitan, dan Semar Gunem. Sekarang nggak ada yang bisa. Saya bisa pukul (main alat musik), tapi yang lain nggak bisa, cuma saya," imbuhnya.

Diakui Goyong, teman-teman seperjuangannya telah tiada. Dan hanya ia yang tersisa untuk memainkan lagu-lagu klasik dari gambang kromong. Goyong berharap, suatu saat ada ada yang mau belajar darinya agar gambang kromong klasik tidak punah dan terus lestari.

(nis/yan)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT