Pakar Forensik Bahasa Nilai Ucapan Edy Mulyadi Provokasi-Menista Pemerintah

Herianto Batubara - detikNews
Sabtu, 29 Jan 2022 12:15 WIB
Edy Mulyadi sebut Prabowo Subianto Macan Jadi Mengeong
Edy Mulyadi Foto: Firda Cynthia/detikcom
Jakarta -

Edy Mulyadi menuai kecaman hingga terjerat kasus hukum karena Kalimantan sebagai lokasi pemindahan ibu kota negara (IKN) disebutnya sebagai 'tempat jin buang anak'. Pakar forensik bahasa dari Universitas Nasional (Unas) Wahyu Wibowo menilai pernyataan tersebut merupakan bentuk provokasi hingga penistaan.

"Jadi suatu masyarakat, di mana pun itu, itu punya kaitan dengan tanah kelahirannya yang di dalam istilah budaya disebut sakti, itu sesuatu yang menguasai dia. kalau kaitan dengan negara, namanya tumpah darah," kata Wahyu saat diwawancarai wartawan, Sabtu (29/1/2022).

"Nah ketika masyarakat tersebut dibilang tempatnya dia tempat jin buang anak, tersinggung nggak, marah nggak? Iya," sambungnya.

Sebagai pakar forensik bahasa, Wahyu mengatakan 'tempat jin buang anak' dipakai untuk menggambarkan wilayah yang sepi, terkucil, seram, sehingga orang tidak mau datang. Nah, menurutnya ini bertolak belakang dengan lokasi pemindahan IKN di Kalimantan yang disebut Edy Mulyadi.

"Jin buang anak itu kan maksudnya sepi, terus terkucil, serem, orang nggak dateng. Lihat dulu dong tempatnya, oke tuh. Oke banget. Saya sudah berapa kali ke sana. Kan tuannya ada, orang se-Kalimantan. Kalau dia bicara begitu kan jadinya memecah rasa persatuan dan kesatuan. Kejadian kan," ujarnya.

Pakar forensik bahasa dari Universitas Nasional Wahyu WibowoPakar forensik bahasa dari Universitas Nasional Wahyu Wibowo Foto: dok ist

"Dari segi bahasa masalahnya terkait etika berbahasa. Harusnya tahan-tahan diri lah untuk provokasi, menista. Jadi pada etika berbahasa masalahnya," sambungnya.

Menurut Wahyu, seharusnya pemindahan ibu kota negara ini tidak usah dipersoalkan lagi karena sudah dibahas dalam proses yang panjang dan telah disetujui pemerintah bersama DPR. Publik harusnya mendukung, bukan malah mengeluarkan pernyataan yang justru menimbulkan polemik, apalagi sampai memecah belah persatuan dan kesatuan.

"Jadi kalau dia asal bunyi begitu, berarti itu provokasi. Jadi pikirannya liar, cuma tidak kritis karena tidak berpijak pada pemikiran yang holistik. Dia asal ngomong, asbun.

"Dari segi bahasa itu provokasi, ngompor-ngomporin orang. Kedua dia penistaan terhadap pemerintah RI. Satu lagi dia bilang itu (IKN) dikerjakan oleh oligarki, artinya sekelompok orang yang berkuasa. Nah itu yang mana? Nggak ada bukti. Kalau dia kritik, dia harus kasih data. Namanya kritik. Ini kan nggak ada," sambungnya.

Wahyu menambahkan, wajar saja jika publik, khususnya orang Kalimantan marah dan membawa kasus ini ke ranah hukum.

"Wajar saja. Kan ada persoalan hukum di dalamnya. Memfitnah, menistakan, memprovokasi kan ada hukumnya. Jadi kalau sudah begini, bikin ribut orang se-Indonesia, apalagi berkaitan dengan suku bangsa lain, sudah masuk SARA itu kalau dari segi bahasa. Cuma nanti bisa dibuktikan dengan hukum," ucapnya.

Dia berharap kasus ini juga bisa jadi pelajaran bagi siapapun agar berpikir dulu sebelum bicara. Apalagi di ruang publik.

"Jangan mudah minta maaf, pikir dulu sebelum ngomong. Dijaga etika berbahasa kita. Jangan sudah menimbulkan perpecahan di mana-mana, baru minta maaf.Inilah pentingnya bahasa. Dia tidak memahami etika berbahasa," jelasnya.

Edy Mulyadi sendiri sedianya pada Jumat (28/1) kemarin dijadwalkan menjalani pemeriksaan di Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri terkait pernyataannya 'tempat jin buang anak' yang menuai kecaman. Namun dia tidak hadir.

Bareskrim melayangkan panggilan kedua untuk Edy Mulyadi pada Senin (31/1). Jika Edy Mulyadi tidak hadir juga, polisi akan melakukan pemanggilan paksa.

Simak di halaman selanjutnya terkait pernyataan Edy Mulyadi meminta maaf...