Pengungsian Kosong, Warga Merapi Gelar Pentas Kubro Siswo
Rabu, 10 Mei 2006 12:25 WIB
Solo - Warga Dusun Stabelan di Desa Tlogolele, Selo, Boyolali, yakin aktivitas Merapi akan semakin mereda dan tidak akan membahayakan keselamatan mereka. Bahkan mereka sempat menggelar kubro siswo, kesenian lokal sebagai bagian dari ritual mengharap kehidupan yang lebih baik. Pentas Kubro Siswo tersebut digelar warga pada Selasa pukul 19.00 WIB hingga Rabu (10/5/2006) pukul 01.00 WIB dinihari. Kubro siswa adalah jenis kesenian yang tumbuh pemukiman lereng Merapi bagian Boyolali dan Magelang. Pentas tersebut merupakan bagian dari tradisi rutin setiap tahun oleh kampung setempat yang berharap mendapat kemudahan sumber air bersih. "Semacam ungkapan terimakasih kepada seluruh penunggu Merapi, karena warga Stabelan memperoleh limpahan air bersih," ujar Budi Harsono, Kepala Desa Tlogolele. Hajatan tahunan itu digelar setelah melihat perkembangan aktivitas Merapi, warga yakin tidak membahayakan. Sejak awal, warga perkampungan tertinggi di lereng Merapi yang hanya berjarak 3 km dari puncak tersebut yakin tidak akan terkena dampak buruk sekalipun terjadi letusan. Kalaupun mereka bersedia mengungsi, hanya karena menuruti anjuran pemerintah yang meminta mereka mengungsi ke tempat aman. Warga Stabelan yang berjumlah 348 jiwa saat ini juga sama sekali tidak terpengaruh dengan semakin sering munculnya lava pijar dan titik api di puncak Merapi. "Pengalaman mengajarkan kepada kami, jika keluar lava pijar dalam waktu lama tanpa disertai guguran besar maka tidak akan disertai awan panas. Kami akan waspada jika disertai dengan guguran besar. Namun nyatanya saat ini yang terjadi tidak ada gugura besar," papar Mulyono, warga Stabelan. Barak Kosong Keyakinan bahwa mereka akan aman membuat 187 warga di Kecamatan Selo yang telah diungsikan di Bungalow Selo memilih pulang ke rumah masing-masing. Sejak Sabtu lalu, pos pengungsian yang disediakan oleh Pemkab Boyolali itu telah benar-benar kosong tanpa penghuni. Mereka pulang atas inisiatif sendiri karena merasa tidak kerasan lagi setelah beberapa pekan di pengungsian. Berbagai alasan mereka sampaikan untuk meninggalkan pos. Misalnya beralasan menghadiri acara pernikahan kerabat atau melihat hewan ternak, lalu setelah itu tidak bersedia lagi kembali ke pos pengungsian.
(nrl/)











































