Kolom Hikmah

Hijrah

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 28 Jan 2022 08:03 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Ilustrasi: Zaki Alfaraby/detikcom
Jakarta -

Makna hijrah berarti, "perpindahan Rasulullah saw. bersama sahabat-sahabatnya dari Mekkah menuju Madinah, kira-kira tahun ke-13 dari masa kenabiannya". Atau "perpindahan dalam rangka meninggalkan tempat kemusyrikan menuju suatu tempat keimanan, dalam rangka melakukan pembinaan dan pendirian masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Atau meninggalkan tempat, keadaan, atau sifat yang tidak baik, menuju yang baik di sisi Allah dan Rasul-Nya (kembali kepada al-Qur'an dan Sunah Nabi saw.). Mari kita simak firman-Nya, dalam surah al-Baqarah ayat 218, " Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Hijrah Rasulullah Saw. memberikan makna penting dan hikmah besar bagi pengembangan penyiaran Islam. Hal ini merupakan perubahan strategi pengembangan Islam di tanah baru yaitu Madinah. Ada perbedaan peran ketika di Mekah dan Madinah, saat di Mekah selama tiga belas tahun sebagai penyampai wahyu. Disamping itu Beliau menarik garis tegas antara pengikut ( mukmin ) dan yang bukan, sehingga timbul konflik. Karena dianggap mengganggu tatanan sosial yang ada maka Rasulullah Saw. dianggap musuh dan dikejar-kejar, dihambat, dicemooh dan dihina. Pada tahun ke lima kenabiannya, dan untuk menyelamatkan iman pengikutnya mereka mengungsi ke Ethiopia ( Habasyah ).

Ketika sampai di Madinah, peranan Rasulullah Saw. tidak hanya sebagai penyampai wahyu, namun juga sebagai pemimpin masyarakat dan kepala negara. Ada tiga langkah dalam mencapai tujuan perjuangannya :
1. Mendirikan Masjid. Fungsi masjid sebagai pusat kegiatan dan pengembangan kebudayaan. Dalam pembangunan masjid yang pertama di Quba, Beliau ikut menyingsingkan lengan baju dan mengangkut tanah. Pendirian masjid memberikan makna bahwa, pembinaan akhlak dan taqwa ( menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya ) adalah hal pertama yang dilakukan sebelum pekerjaan yang dikerjakan.
2. Mempersaudarakan sesama Muslim ( kaum Anshar dan Muhajirin ) berdasarkan ikatan agama tanpa perbedaan derajat baik karena darah dan suku. Pada saat itu situasi persaingan di tanah Arab antar suku sangat ketat dan cenderung sering berkonflik. Persaudaraan ini ibarat satu tubuh yang jika ada satu anggota tubuh terkena penyakit maka seluruh anggota tubuh merasakannya. Langkah ini yang nantinya menjadi landasan gerakan Ukhuwwah.
3. Membangun masyarakat bernegara didukung oleh seluruh penduduk Madinah dan sekitarnya tanpa memandang keturunan dan agama yang dianut. Masyarakat bernegara ini diikat oleh tali kepentingan dan cita-cita yang sama, yang harus dibela, ditegakkan dan dibangun bersama. Kondisi tersebut dalam dunia saat ini disebut konstitusi atau UUD ( undang-undang dasar ). Kontrak sosial yang disetujui seluruh penduduk Madinah dan sekitarnya terekam dalam satu Piagam yang dikenal dengan nama Piagam Madinah.

Dalam ringkasan kandungan konstitusi Negara Kota Madinah :
Pertama, Asas persamaan. Semua orang mempunyai kedudukan yang sama dalam masyarakat. Wajib saling membantu dan dilarang seseorang diperlakukan dengan buruk. Jika seorang warga yang lemah hendaknya dilindungi dan dibantu.
Kedua, Asas kebebasan beragama. Disini negara melindungi setiap kelompok untuk beribadah menurut agamanya masing-masing.
Ketiga, Asas kebersamaan. Setiap warga masyarakat mempunyai hak dan kewajiban yang sama terhadap negara.
Keempat, Asas keadilan. Setiap anggota masyarakat mempunyai kedudukan yang sama di hadapan hukum. Hukum ditegakkan tidak memandang status dan bagi yang melanggar harus dihukum.
Kelima, Asas musyawarah. Musyawarah merupakan wadah untuk mencari atau menemukan solusi dalam persoalan kehidupan maupun kenegaraan. Dalam musyawarah akan diperoleh keputusan yang baik karena materi yang dimusyawarahkan dibahas beberapa pihak.

Pokok-pokok yang menjadi landasan konstitusi ini dalam Piagam Madinah, telah menjadikan sumber-sumber untuk menyusun konstitusi negara lain. Asas persamaan, kebebasan beragama, keadilan, kebersamaan dan musyawarah, di banyak negara saat ini asas-asas tersebut telah digunakan. Penyusunan Piagam Madinah terjadi pada tahun 2 Hijriyah / tahun 624 Masehi, sebelum meletusnya Perang Badar. Artinya Islam mempunyai ajaran berkonstitusi sejak empat belas abad silam. Semoga hakikat yang terkandung dalam Piagam Madinah dapat menjadikan masyarakat yang makmur dan berkeadilan dalam suatu negara.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

(erd/erd)