Kontemplasi Qalbu (23)

Kiat Menghindari Stres

Prof. Nasaruddin Umar - detikNews
Jumat, 28 Jan 2022 05:00 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Fenomena stress di dalam masyarakat semakin meluas. Ini pertanda masyarakat kita sedang berhadapan dengan suatu yang tidak sederhana. Nilai-nilai kearifan lokal bagaikan tidak sanggup lagi mengatasi rumitnya beban hidup manusia. Hal-hal seperti ini melebarkan fenomena stres di dalam masyarakat. Sumber-sumber stress juga eskalasinya semakin meluas dan bagaikan tak terkendalikan lagi. Sumber utama stres masih berkisar pada manusia yang melalui teknologi modern semakin memudahkan untuk bisa berkomunikasi dengan dunia internasional. Manusia lebih mudah melakukan interaksi dengan dunia global/internasional dengan mudah dan murah.

Sumber lain dari fenomena stres ini ialah lingkungan yang semakin rumit dan dipadati dengan pencemaran, bukan hanya polusi udara yang semakin kotor tetapi juga pencemaran social budaya yang mengalienasikan manusia dari jati dirinya. Apalagi di sejumlah kota besar di Indonesia setiap hari harus bergelut dengan kemacetan. Seolah-olah separuh umur harus dihabiskan di jalan-jalan. Lingkungan seperti I tentu akan menyumbang meluasnya stres di dalam masyarakat,

Sumber lainnya ialah diri kita sendiri dengan perangkat collective memory yang terakumulasi di dalam benak kita. Referensi kehidupan yang penuh dengan cerita unik dan sebagian di antaranya menyedihkan, bahkan tergolong memilukan hati. Keutuhan jati diri manusia semakin sulit dijadikan referensi karena sedemikian tingginya pergerakan dan mobilitas manusia yang sarat dengan multi etnik dan agama.

Kiat-kiat menghindari stres dapat dilakukan beberapa macam, antara lain seperti direkomendasikan Sean Covey sebagai berikut: Hiduplah sesuai dengan diri anda, jangan biarkan orang lain mengatur hidup diri kita, hiduplah secara mandiri, kembangkan hobi-hobi yang menyenangkan, istirahatlah secara teratur, berekreasi dan berlibur secara teratur, berolahragalah secara teratur, miliki pola makan yang sehat, kalau bisa biasakan puasa Senin-Kamis, khusyu' di dalam beribadah atau melakukan meditasi secara teratur. Olah raga secara teratur juga sangat diperlukan, ciptakan filosopi hidup yang positif, optimistis dan realistis di dalam menjalani kehidupan, rasakanlah kehidupannya seperti mengalir dan tawakkal, tidur secara teratur, melakukan tadabbur alam secara berkala, katakan ia kalau ia dan tidak kalau tidak, melakukan relaksasi di sela-sela tugas, diusahakan menghindari kebisingan, dan usahakan mecahkanlah persoalan secara tahap demi tahap, memperindah lingkungan kerja dan hunian, jangan terlalu serius, menjauhi hal-hal yang berlebihan, seringlah tertawa, dan yang tak kalah pentingnya Jauhi alkohol dan obat-obat penenang.

Cara lain yang direkomendasikan orang ialah mendidik jiwa dengan cara belajar mengelola dunia batin kita sebagai kunci keberhasilan menyikapi stress, melenturkan Jiwa dengan cara melakukan berbagai latihan, terapi, dan meditasi. Yang tak kalah penting ialah membersihkan jiwa dengan cara seperti dilakukan oleh Nabi Nuh. Jiwa seperti kapal yang memuat berbagai jenis muatan. Perlu latihan membongkar muatan-muatan jiwa dengan cara sebagai berikut: Mencari tempat yang tenang, istirahat dan nyamankanlah diri anda tetapi jangan sampai tertidur. Pejamkan mata sambil menghilangkan semua beban pikiran. Lebih bagus diiringi musik-musik meditasi, memanfatkan dirinya sendiri, melupakan kesewenang-wenangnya. Yang tak kalah menariknya ialah melupakan endapan-endapan kekecewaan yang pernah terjadi di masa hidupnya.

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

Lihat juga Video: Lagi Stres? Bisa Nikmati Kebun Teh dan Samudera Awan di Bandung

[Gambas:Video 20detik]



(erd/erd)