Dugaan Pungli Miliaran Bikin Pejabat Bea Cukai Hilang Jabatan

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 25 Jan 2022 23:16 WIB
Ilustrasi pungli
Ilustrasi (Basith Subastian/detikcom)
Jakarta -

Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) mengadukan pungutan liar (Pungli) yang dilakukan oleh oknum Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta. Usai laporan itu, pejabat Bea Cukai diberhentikan.

Koordinator MAKI, Boyamin Saiman, mengatakan, MAKI telah berkirim surat melalui surat elektronik, maupun WhatsApp (WA) hotline Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Banten pada Sabtu (8/1).

Pungli itu diduga terjadi selama satu tahun, yaitu pada April 2020 sampai April 2021.

Dugaan pungli dilakukan dengan modus penekanan kepada perusahaan jasa kurir, PT SQKSS. Ada dua oknum pegawai Bea Cukai yang diduga terlibat kasus tersebut.

"Oknum tersebut dengan inisial AB merupakan pejabat Bea Cukai setingkat eselon III dengan jabatan sejenis Kepala Bidang, dan inisial VI merupakan pejabat setingkat eselon IV dengan jabatan sejenis Kepala Seksi di kantor Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta Tangerang," ungkapnya, Sabtu (8/1).

Oknum itu mengancam secara tertulis. Dia mengirimkan surat peringatan tanpa alasan yang jelas. Selain itu, ada ancaman verbal berupa penutupan usaha.

Koordinator MAKI, Boyamin SaimanKoordinator MAKI, Boyamin Saiman Foto: Wilda Hayatun Nufus/detikcom

Boyamin mengatakan, oknum tersebut diduga meminta uang setoran sebesar Rp 5.000/kg barang kiriman dari luar negeri. Namun pihak perusahaan jasa kurir hanya mampu memberikan Rp 1.000/kg.

Dia mengatakan pihak perusahaan telah membayar dan berulang kali menjelaskan kondisi keuangan sedang sulit karena terpengaruh kondisi COVID-19. Namun, oknum tersebut merasa jumlah yang dibayarkan di bawah harapan.

"Oleh sebab itu usahanya terus mengalami gangguan selama satu tahun, baik verbal maupun tertulis," katanya.

Boyamin mengatakan, oknum mengajak korban bertemu di sebuah tempat di tempat wisata di Jakarta Timur. Saat itu, oknum meminta agar pihak perusahaan mengganti nomor staf keuangan saat penyerahan uang selama setahun karena takut disadap.

"Diduga melalui hubungan telepon Terlapor ke pengurus perusahaan, telah meminta pembayaran segera dilaksanakan penyerahan uang dan akhirnya terlaksana penyerahan uang dugaan nominal sekitar Rp 1,7 miliar," katanya.

Simak Video: Pelabuhan Patimban Akan Pakai Sistem Cashless

[Gambas:Video 20detik]