Kala Ganjar Posting Video 'Bareng' Lisa Blackpink demi Pikat Milenial

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 25 Jan 2022 18:05 WIB
Ganjar Pranowo posting video ala-ala halu sama Lisa Blackpink.
Foto: Tangkapan Layar Akun Twitter Ganjar Pranowo @ganjarpranowo
Solo -

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengunggah sebuah video 'bareng' Lisa Blackpink. Konten itu disebut jurus Ganjar memikat segmen milenial.

Video berdurasi 30 detik itu memperlihatkan kompilasi video Lisa dengan Ganjar. Video itu menggambarkan seolah-olah Ganjar berinteraksi dengan member girlband Korsel tersebut.

Pakar politik UGM Wawan Mas'udi menilai langkah itu merupakan jurus Ganjar mendekatkan diri dengan milenial. Sosok Lisa dianggap salah satu representasi kaum milenial di Indonesia.

"Ya yang pasti, meskipun (2024) masih jauh tapi upaya untuk melakukan pemanasan mesin politik maupun untuk memperkuat citra diri di depan pemilih ini terus dilakukan," kata Wawan saat dihubungi wartawan, Selasa (25/1/2022).

Mas'udi mengatakan Ganjar sedang memetakan segmen milenial khususnya dunia musik. Ganja ingin menunjukkan sebagai sosok kekinian.

"Ketika Pak Ganjar misalkan mengesankan diri dekat, kenal, tahu, sekaligus menjadi bagian dari fans kelompok musik tertentu itu kan bagian dari segmentasi itu, bahwa saya menjadi bagian dari anda," jelasnya.

Langkah yang dilakukan Ganjar, sebetulnya sudah lebih dulu dilakukan Erick Tohir dengan BTS-nya dan Ridwan Kamil dengan remake video Noah berjudul Yang Terdalam di Instagramnya.

"Masing-masing kemudian mencoba setelah memiliki peta ini kan strategi untuk bisa dekat, masuk, dan kemudian ada di memori pemilih beda-beda. Kalau ke petani strategi Ganjar seperti itu tadi tidak laku," katanya.

Sebetulnya masuk segmentasi musik bukan hal baru bagi Ganjar. Dulu kader PDIP itu pernah hadir dalam berbagai acara konser musik metal.

"Tapi kalau track record Ganjar masuk ke hype culture itu bukan cerita baru, dulu kan Ganjar suka musik metal bahkan hadir di beberapa festival musik rock," ujarnya.

"Ini merupakan bagian dari strategi politik untuk bisa membangun engagement bisa membangun memori di segmen-segmen pemilih tertentu," imbuhnya.

Soal efektivitas strategi ini, Dekan Fisipol UGM baru akan terlihat saat pemilu. Namun proses ini harus dilakukan.

"Kan selalu dua sisi kampanye politik itu. (Dari sisi) Kampanyenya sendiri dengan penerimaan kampanye itu. Penerimaan tadi kan dalam bentuk dukungan politik, yang riil ya pemilu. Tapi sebelum itu bisa dalam bentuk popularitas, elektabilitas," ucapnya.

Artikel ini telah tayang di detikJateng. Untuk informasi dan berita seputar Solo, Semarang, dan daerah-daerah di Jateng, klik di sini www.detik.com/jateng

(mud/mud)