Kolom Hikmah

Gus Yahya Mengafirmasi Jokowi

Ishaq Zubaedi Raqib - detikNews
Selasa, 25 Jan 2022 14:55 WIB
Ishaq Zubaedi Raqib
Foto: Ishaq Zubaedi Raqib (Foto: Dokumen pribadi)
Jakarta -

Sembilan belas (19) tahun sebelum Republik Indonesia (RI) diproklamirkan Soekarno-Hatta, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari mendeklarasikan berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). RI lahir tahun 1945. NU milad tahun 1926. Tahun ini NKRI berusia 77 tahun. Tahun 2022 NU berumur 96 tahun. Bung Karno membaca teks proklamasi di Jakarta, kelahiran NU diikhbar di kota kelahiran Soekarno ; Surabaya.

Dalam strata rumah tangga, NU dan NKRI, adalah kakak adik. Tapi dalam tatanan keluarga besar bangsa, NU berinduk pada Negara Kesatuan Republik Indonesia. NU berjasa besar, berperan tidak kecil, mempertaruhkan diri, jiwa dan raga, demi lahirnya Sang Adik ; Indonesia Raya. Dalam hampir dua dekade, 19 tahun sejak kelahirannya, NU jadi salah satu unsur besar menyiapkan berdirinya Republik Indonesia.

Bagi NU, NKRI yang ber-Pancasila, atas dasar UUD 1945, dengan lambang Bhinneka Tunggal Ika adalah keniscayaan. Sebagai lokomotif para ulama, membawa gerbong berisi ratusan juta umat, NU membutuhkan infrastruktur yang memadai agar dapat menjalankan tugas kekhalifahannya di atas bumi Allah SWT. Agar dapat beribadah kepada-Nya dengan tenang, maka NKRI yang damai adalah prasyarat.

Hidup mati NKRI

Untuk tujuan itu, maka NU pasti dan mewajibkan diri berkomitmen bagi berlakunya ajaran Islam berpaham Ahlus Sunnah Wal Jama'ah . Mazhab ini dijadikan wasilah, agar NU dapat mewujudkan tatanan masyarakat yang berkeadilan, demi tercapainya kemaslahatan, kesejahteraan umat, dan demi terciptanya rahmah bagi semesta. Bagi NU ; tujuan hidup adalah bahagia dunia dan akhirat.

Infrastruktur yang dimaksud adalah NKRI yang aman, damai dan tenang. Inilah negara bangsa yang berdiri tegak di atas ragam perbedaan. Suku, agama, ras, antargolongan telah menjadi kekayaan Indonesia. Menjaga semua unsur tetap berada dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika adalah kewajiban semua. Bagi NU, sikapnya ini dapat dikonfirmasi dari kaidah "Maa Laa Yatimmul Waajib Illaa Bihii Fahuwa Waajib."

"Jika suatu perkara yang wajib tidak bisa sempurna karena suatu HAL, maka HAL itu wajib adanya." Jika beribadah hanya mungkin bisa dilakukan dengan sempurna karena adanya keadaan yang damai, aman dan tenang, maka ikhtiar mewujudkan keadaan damai, aman dan tenang adalah wajib hukumnya. Kita tidak yakin, negara yang tercabik-cabik akibat perang tiada berkesudahan, bisa menyiapkan jaminan damai, aman dan tenang beribadah.

Untuk itu, NU telah membuktikan ghiroh -nya. NU sudah membaktikan darmanya. 77 tahun silam, 22 Oktober 1945, meletus peristiwa penting yang jadi rangkaian sejarah perjuangan Indonesia melawan kolonialisme. 77 tahun lalu, PBNU mengundang konsul-konsul NU se-Jawa Madura ke kantor PB ANO (Ansor Nahdlatul Oelama), Jl Bubutan VI/2 Surabaya. Nasib RI kritis di usianya yang belum genap 3 bulan.

Menurut sementara catatan, hingga Oktober 1945, belum ada satu negara pun yang mengakui negara RI. Bung Karno gundah. Terlebih setelah Belanda diyakini membonceng kedatangan Sekutu ke Surabaya. Lalu Bung Karno berkorespondensi dengan KH Hasyim Asy'ari. Merasa wajib menyelamatkan RI, Mbah Hasyim, menerbitkan amanat berupa pokok-pokok dan kaidah kewajiban jihad mempertahankan tanah air dan bangsanya.

"Resolusi Jihad" : "Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe fardloe 'ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja)..."

Jihad ke Kalimantan

Meski alasannya tidak sama persis, awal tahun 1950, Soekarno sudah menyebut Kalimantan sebagai alternatif bagi Ibu Kota Negara. Berbeda dengan Jokowi yang memilih bagian timur, Soekarno melirik bagian tengah. Ia meletakkan batu pertama pembangunan Kota Palangkaraya. Secara simbolis ditunjukkan dengan berdirinya Tugu Soekarno yang diresmikan Soekarno pada 17 April 1957.

Meski alasannya tidak sama persis, KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU, memberi respon kepada Presiden Jokowi, seperti Mbah Hasyim Asy'ari menyikapi kemasygulan Bung Karno dengan Resolusi Jihad. Gus Yahya,--sapaan KH Yahya Cholil Staquf, adalah satu-satunya pimpinan organisasi yang mengafirmasi keputusan politik Jokowi soal pemindahan IKN ke Kalimantan Timur. NU siap berjihad ke Kalimantan.

Lembaga dan pranata politik, serta partai politik penghuni parlemen, sudah mengafirmasi dengan memberi legitimasi konstitusional. Tapi, afirmasi dalam bentuk langkah konkret lewat implementasi di lapangan, di Kalimantan Timur, belum diamplifikasi ke publik. Padahal, sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, Presiden Jokowo butuh lebih dari itu. Butuh "dikawani" day to day di IKN baru.

NU selangkah lebih maju dalam "mengawani" Jokowi. Bentuk afirmasinya adalah bahwa NU siap keluar dan meninggalkan cangkang. Persis negara RI yang diproklamirkan di Jakarta, dan lalu akan pindah ke luar Jawa, NU juga begitu. Sebagai imam agung baru NU, Gus Yahya telah berjihad dan berijtihad melepaskan NU dari locus ke- Jawa-annya, jadi jam'iyyah nusantara. Menjangkau jama'ah di semua teritori Indonesia.

Bukti afirmasinya, begitu Sekjen PBNU Saifullah Yusuf, personalia PBNU masa bhakti 2022-2027, akan dikukuhkan di Kalimantan Timur. Untuk "menemani" istana negara yang tengah dibangun, NU juga melakukan pencanangan kantor PBNU di calon IKN baru. Akan kian terbukti adanya rasa saling memiliki antara NU dan NKRI, jika Presiden Jokowi berkenan jadi saksi pengukuhan pengurus dan kantor PBNU itu.

Gus Yahya tidak main-main. Dia akan memastikan NU siap bertaruh demi terjaminnya amaliyah Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah lewat tetap tegaknya NKRI selama-lamanya. Maka, unsur utama dan pertama kekuatan NU, yakni pondok pesantren, dicanangkan segera dibangun di Kalimantan Timur. Dilanjutkan pendirian universitas dan pembangunan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit.

Akhirul Kalam

Jika ditanya alasan ikut bermigrasi ke Kalimantan Timur, Gus Yahya hanya tertawa. Tawa khasnya. "Yowis, gitu aja," adalah jawaban setiap ditanya wartawan. Tapi dia akan serius dan berapi-api jika berbicara soal NU dan tatanan dunia baru serta pembangunan peradaban dunia. Bukankah membangun IKN adalah salah satu tangga menuju rumah peradaban dunia yang lebih berkeadilan, penuh kesetaraan dan perdamaian abadi ? (*)

Ishaq Zubaedi Raqib *

Penulis adalah kolumnis masalah-masalah NU

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)