SBY dan Presiden Iran akan Bahas Krisis Nuklir
Selasa, 09 Mei 2006 16:52 WIB
Jakarta - Perkembangan terakhir penanganan krisis nuklir, merupakan agenda utama pembicaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan rekannya dari Iran, Presiden Mahmoud Ahmadinejad."Ini kesempatan pertama bagi kita mendengar langsung respons Iran terhadap resolusi yang sedang dirancang lima anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB. Termasuk apa yang kita dengar adanya surat dari Presiden Ahmadinejad pada Presiden Bush," tutur Menlu Hassan Wirajuda di Istana Negara, Jakarta, Rabu (9/5/2006). Pertemuan SBY dengan Mahmoed Ahmadinejad akan berlangsung Rabu (10/5/2006). Menurut Menlu, dalam pertemuan nanti, diharapkan pemerintah Indonesia bisa memperoleh gambaran lebih jelas langkah berikutnya yang perlu diambil ke arah upaya mengurangi ketegangan dan mencari solusi damai dari krisis nuklir Iran. Tentang meningkatnya ketegangan antara Iran dengan AS menjelang dikeluarkannya resolusi penyelesaian melalui DK PBB atau IAEA, Menlu menolak memberi pernyataan. Menlu bersikap apakah secara tegas akan mendukung Iran atau kembali mengambil sikap abstein seperti dalam sidang darurat IAEA pada awal Maret lalu. "Meski kita sudah tahu draf awal, tapi resolusinya kan belum dihasilkan. Jadi kita belum berprasangka tentukan sikap kita. Sejauh ini posisi kita mendukung pengembagan tenaga nuklir untuk tujuan damai. Ini hak mendasar setiap negara. Tapi kita juga konsisten menolak penyebarluasan senjata nuklir," kata Menlu. Sikap Indonesia itu, menurut Menlu, sikap Indonesia tersebut telah dikomunikasikan dengan Iran. Pemerintah Iran sangat menyambut baik dukungan tersebut, karena proses pengayaan uranium yang mereka lakukan tidak ditujukan memproduksi senjata pemusnah massal sebagaimana tuduhan AS, melainkan keperluan pembangkit energi. Lebih lanjut Menlu memaparkan, hal lain yang akan dibicarakan kedua kepala negara berpenduduk muslim terbesar itu adalah menjalin kerjasama di bidang IPTEK dan kebijakan keimigrasian. Pihak Indonesia memutuskan memberi fasilitas visa on arrival (VoA) bagi pemegang paspor Iran. Sebelumnya, Iran telah memberikan bebas visa bagi pemegang paspor Indonesia untuk selama dua minggu. Tidak kalah penting yang akan dibicarakan juga adalah peningkatan hubungan ekonomi yang lebih konkret, seperti perdagangan dan investasi yang selama ini relatif masih di bawah potensi kedua negara. Salah satunya menindaklanjuti ketertarikan pengusaha Iran berpartisipasi dalam pembangunan kilang minyak di Tanah Air, khususnya kilang yang akan memproses minyak yang diimpor RI dari Iran. "Kita lihat ada peluang (kerjasama) untuk ditingkatkan. Iran juga punya banyak modal dari kenaikan harga minyak dan kebutuhan mereka untuk berinvestasi," papar Menlu. Presiden Mahmoud Ahmadinejad, Selasa (9/5/2006) malam ini akan tiba di Jakarta. Pagi keesokan harinya, ia akan diterima secara resmi oleh Presiden SBY di Istana Merdeka. Siang harinya ia dijadwalkan berkunjung ke Universitas Indonesia dan memberikan ceramah di UIN Jakarta. Ini adalah kunjungan kenegaraan Presiden Iran yang pertama selama 10 tahun terakhir. Rombongan Presiden Iran akan meninggalkan Indonesia pada 12 Mei, setelah sebelumnya mengikuti KTT Development 8 (D-8) di Denpasar, Bali.
(asy/)











































