Ketoprak di Pos Pengungsian, Lava Pijar Jadi Tontonan

Ketoprak di Pos Pengungsian, Lava Pijar Jadi Tontonan

- detikNews
Selasa, 09 Mei 2006 16:06 WIB
Klaten - Kejenuhan hidup di barak pengungsian membuat warga mencari cara untuk keluar darinya. Pentas seni dinilai cukup ampuh untuk mengurai kejenuhan dan kebosanan itu. Sementara itu pijaran lava di puncak Merapi, menjadi tontonan tersendiri bagi warga.Di Pos Pengungsian Dompol, Klaten digelar pementasan ketoprak. Tata panggung, tata busana serta tata cahayanya yang digunakan serba ala kadarnya. Demikian juga dengan kualitas pemain dan iringannya. Maklum, seluruh pemainnya warga sekitar pos tersebut dan bukan 'orang panggung sejati'. Lakon yang diambil adalah 'Babad Alas Mentaok' yang mengisahkan tentang pembukaan kawasan hutan Mentaok oleh Ki Pemanahan untuk dijadikan sebagai lokasi kerajaan bagi anaknya, Sutawijaya. Kerajaan itu selanjutnya diberi nama Mataram, cikal bakal Kraton Surakarta dan Yogyakarta. Meskipun bisa disebut ala kadarnya, namun tontonan tersebut berhasil membuat warga pengungsi cukup terhibur. Gelak tawa memecahkan kepenatan dan kejenuhan hidup di pos pengungsian yang tidak ada kejelasan hingga kapan mereka akan tinggal di tempat tersebut. Ternyata juga bukan hanya pengungsi yang menikmati sajian seni tersebut. Warga sekitar tempat pengungsian juga berdatangan memadati Lapangan Desa Dompol, tempat acara digelar. Mereka berbaur dengan para pengungsi. Semua bertahan hingga acara selesai Selasa (9/5/2006) dinihari. Tontonan Lava PijarJika pengungsi menonton ketoprak, warga daerah lain justru naik ke punggung gunung. Semalaman mereka menunggu kemunculan titik api diam dan lava pijar di puncak Merapi yang semakin hari semakin jelas dilihat dengan mata telanjang. Senin malam hingga Selasa dinihari, puluhan orang berkumpul di pelataran parkiran Deles Indah. Jika cuaca cerah, dari lokasi itu puncak Merapi memang terlihat jelas tanpa penghalang apa pun. Apalagi jaraknya hanya 5 km dari puncak. Mereka yang datang sebagian besar adalah warga daerah Klaten dan Yogyakarta bagian utara. Ada yang naik dengan berombongan dengan menggunakan mobil, ada pula yang berboncengan naik motor.Selanjutnya, dengan sabar mereka menunggu kemunculan lava pijar dan titik api sambil tiduran di badan jalan depan parkiran. Mereka bertahan hingga pagi hari tiba.Mereka tidak sia-sia, meskipun harus menunggu lama. Dari Deles, Selasa dinihari, kemunculan titik api diam dan lava pijar di puncak Merapi memang terlihat cukup besar dan dapat ditangkap dengan mata telanjang. Semburat cahaya merah samar-samar muncul pada 02.15 WIB menembus kabut yang saat itu menyelemuti puncak. Setelah itu cuaca yang cerah menguntungkan mereka untuk dapat melihat titik api dengan jelas pada pukul 03.41 WIB, 03.48 WIB dan 03.56 WIB. Terakhir mereka juga beruntung dapat menyaksikan kemunculan lelehan lava pijar pada pukul 04.22 WIB. (asy/)


Berita Terkait