Ajaran Kesetaraan dari Isyarat Jari Guru Ninuk

Khairunnisa Adinda Kinanti - detikNews
Minggu, 23 Jan 2022 06:41 WIB
Jakarta -

Ninuk Dwi Wuriyanti adalah guru tunarungu yang mendedikasikan dirinya untuk mengajar anak-anak tunarungu di Yayasan Santi Rama, tempatnya bersekolah dahulu. Kini, genap 15 tahun ia mengajar dengan gerakan-gerakan jari isyaratnya.

Wanita berusia 41 tahun itu terus mendorong muridnya, agar mau menggunakan bahasa isyarat sebagai identitas diri. Motivasi itu menurutnya penting agar para siswa tak minder dengan kondisi yang mereka miliki.

"Ayo kamu harus semangat. Tidak usah malu kalau kamu tunarungu. Kamu harus bisa mandiri, sama seperti orang dengar yang lain. Dan kita harus setara," ucap Ninuk menirukan kata-kata motivasi yang ia sampaikan kepada murid-muridnya.

Ninuk kini telah membangun rumah tangga bersama suaminya, Ervin (40), kakak tingkatnya saat masih sekolah dulu. Mereka kini dikaruniai 2 orang anak.

"Yang satu laki-laki, yang satu perempuan. Alhamdulillah anak saya dua-duanya bisa mendengar," ujar Ninuk dalam program Sosok, detikcom.

Kenyataan hidup yang Ninuk alami, membuatnya terus mencari cara yang efektif dalam mengajar. Baik di sekolah bersama murid-murid tunarungu, maupun di rumah bersama anak-anaknya yang tumbuh normal.

"Menurut saya, mengajar di sekolah tidak ada masalah karena sama-sama tunarungu dan menggunakan bahasa isyarat. Sedangkan kalau mengajar anak-anak saya di rumah, atau anak yang bisa mendengar, saya merasa ada kesulitan di komunikasinya," papar Ninuk

Ninuk bersyukur, kedua anaknya memahami keadaan orang tuanya. Ia mengaku berkomunikasi dengan membaca gerak bibir. Kalau tidak paham, mereka akan menulisnya dengan telepon pintar.

"Awalnya anak pertama saya waktu itu belum paham tunarungu itu seperti apa. Dulu manggil 'Ma, Ma' saya tidak mendengar. Lalu akhirnya anak saya memanggil dengan cara menyentuh saya. Akhirnya sekitar umur 5 tahun baru paham kalau orang tuanya itu tunarungu," tutur Ninuk.

(vys/ids)