Cerita Aeshnina, Surati Presiden AS demi Perjuangkan Isu Lingkungan

Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Sabtu, 22 Jan 2022 20:49 WIB
CXO Media
Foto: Tangkapan Layar CXO Media
Jakarta -

Persoalan sampah masih menjadi salah satu masalah besar di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta. Berbagai upaya pun telah dilakukan oleh pemerintah guna mengatasi masalah sampah, khususnya sampah plastik.

Isu sampah plastik ternyata juga menarik perhatian Aktivis Lingkungan cilik berusia 14 tahun, Aeshnina Azzahra. Terlebih ada banyak sampah plastik impor yang dikirim dari negara lain.

"Alasan saya fokus mengenai isu lingkungan dan sampah plastik itu karena penyelundupan sampah plastik yang dilakukan oleh negara maju. Ya, saya sebagai anak Indonesia nggak terima, negara Indonesia negara berkembang dijadikan tempat sampah oleh negara maju yang kita jadikan panutan," ujarnya dalam acara CXO Mediaverse yang ditayangkan di cxomedia.id, Sabtu (22/1/2022).

Meski terbilang muda, Aeshnina ternyata tak main-main dalam menyuarakan kepeduliannya di isu lingkungan. Bahkan, dirinya juga menyurati para pejabat luar negeri mulai dari perdana menteri hingga presiden.

"Menurut pengalaman saya, suara anak itu lebih didengar publik dan pemerintah. Upaya yang saya lakukan untuk mencegah masuknya sampah plastik import ke Indonesia (dengan) saya menulis surat. Karena menulis kan kita semua bisa menulis, gampang, dan bisa kirim ke siapa pun yang kita mau. Saya menulis pertama kali pada tahun 2019 ke Presiden Amerika Donald Trump, kemudian saya menulis ke kanselir Jerman, Perdana Menteri Australia, Perdana Menteri Kanada. Dan pada tahun 2021, saya menulis surat ke Presiden Amerika Serikat yang baru, Joe Biden, dan Perdana Menteri Belanda," katanya.

Berkat suratnya, Aeshnina mengaku hingga saat ini sampah plastik import telah mengalami pengurangan. Ia mengatakan perjuangannya ini bukan semata-mata hanya untuk dirinya, melainkan generasi ke depan. Sebab, ia ingin generasi selanjutnya masih dapat merasakan hidup di lingkungan yang bersih dari sampah.

"Dan sekarang sampah plastik impor dari Amerika berkurang hingga 50 persen dibandingkan dari 2018. Yang membuat saya tetep semangat untuk memperjuangkan isu lingkungan ini ya saya ingin waktu saya besar nanti generasi muda dan generasi selanjutnya merasakan gimana rasanya hidup di lingkungan yang bersih, menghirup udara yang bersih, minum air yang bersih, berenang di sungai yang bersih. Saya mau mereka merasakan itu," ungkapnya.

Untuk generasi penerus, Aeshnina pun berpesan agar tak perlu takut untuk menyuarakan hak, termasuk hak untuk hidup di lingkungan bersih. Tak hanya itu, dirinya juga berpesan agar generasi saat ini dapat mempertimbangkan isu lingkungan sebagai hal penting demi masa depan generasi penerus.

"Pesan saya untuk anak muda Indonesia, kita sebagai anak muda mempunyai hak untuk hidup di sungai yang bersih, menghirup udara bersih, kita punya hak untuk itu. Jadi, kita tidak boleh takut, kita harus berani, berjuang, bersuara menuntut hak kita," katanya.

"Dan generasi saat ini, bapak-bapak, ibu-ibu, pemerintah, saya ingin kalian untuk lebih memprioritaskan isu lingkungan agar anak cucu bisa hidup di masa depan yang cerah. Jadi, kurangi penggunaan plastik sekali pakai," lanjutnya.

Sebagai perempuan, Aeshnina juga mengungkapkan, agar perempuan harus berani menyampaikan suaranya. Mengingat perempuan nantinya akan menjadi sosok ibu dan contoh bagi anak-anak

"Pesan saya untuk perempuan, perempuan akan menjadi ibu. Dan ibu adalah pembuat keputusan, dan menjadi contoh untuk anaknya. Jadi, sebagai perempuan kita tidak boleh takut untuk menyampaikan ide atau gagasan kita untuk masa depan" pungkasnya.

(akn/ega)