Polling Presiden Ideal
Soekarno di Atas Soeharto & SBY
Selasa, 09 Mei 2006 11:40 WIB
Jakarta - 21 Mei 1998, Soeharto resmi meletakkan jabatan presiden Indonesia setelah berkuasa 32 tahun lamanya. Sosoknya segera tenggelam dari panggung politik, dan selalu menjadi muara cercaan dan makian penyebab keterpurukan bangsa. Pokoknya mbah dari segala mbah kemandulan bangsa. Tapi apa benar segitunya? Hasil polling yang diselenggarakan detikcom tidak membenarkannya bulat-bulat. Faktanya, tetap ada sebagian rakyat Indonesia yang memuja atau merindukan figur Soeharto. Pokoknya, bagi mereka Soeharto is the best. Polling kali ini mengambil tema Presiden Ideal bagi Indonesia. Tokoh-tokoh yang menjadi rujukan adalah para mantan presiden dan juga yang masih menjabat, berikut dengan opsi Tidak Ada. Polling dimulai pada hari Senin (8/5) dan masih berlangsung sampai dengan warta ini dibuat, Selasa (9/5), 11.00 WIB. Hasil yang ada, nama Soeharto masih favorit. Ia ada di peringkat kedua dari sederet para pemimpin yang pernah mengemudikan kapal Nusantara ini. Dari 1268 responden, 262 memilihnya atau sekitar 20,66%. Figurnya hanya kalah dari sang founding father, Soekarno yang meraup 25,42%.Tokoh-tokoh superstar era Reformasi ternyata tak banyak berbicara. Nama-nama presiden pasca presiden era reformasi bahkan kalah dari "bumbung kosong." Alias, khalayak menilai tidak ada figur di antara para eks pemimpin bangsa yang nyata-nyata ideal menjadi presiden Indonesia.Jumlah yang memilih "bumbung kosong" ini mencapai 13,41%. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), presiden pertama yang dipilih rakyat secara langsung, ternyata hanya dipilih 13,09% responden. Lalu ada Megawati, yang menjadi simbol tokoh teraniaya Orba cuma mengantongi 12,70%. Di bawahnya, Habibie, sang teknokrat yang beruntung memperoleh momentum sejarah, juga hanya mendapat 10,88%. Tapi Habibie masih jauh lebih beruntung. Penggantinya, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, memperoleh suara jauh lebih kecil. Hanya mampir 3,94% suara di sakunya. Merunut hasil polling ini, Memang tidak ada figur yang terlalu dominan. Tapi mungkin memang wajar saja, toh tidak ada sosok yang sempurna. Semua selalu punya cerita hitam dan putih masing-masing yang tentunya menjadi pertimbangan para responden saat memilih. Namun yang menarik, dari bercokolnya nama Soekarno dan Soeharto pada posisi teratas, figur-figur pemimpin masa lalu ternyata lebih menyedot perhatian dari responden yang tentunya adalah individu-individu masa kini. Sekadar romantisme cerita nenek moyang ataukah reformasi ternyata memang gagal memberi harapan? Hmmm.....* Responden adalah pengakses situs detikcom yang berkenan ikut serta dalam polling, dimana satu komputer hanya bisa tercatat sekali saat memberikan pilihan. Meski demikian, polling ini tentu masih jauh dari kaidah metoda-metoda polling yang layak. Semata hanya menyerap aspirasi.
(tbs/)











































