Kolom Hikmah

Ucapan

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 21 Jan 2022 08:01 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Ucapan merupakan penyampaian atau mengungkapkan isi hati, menjelaskan rahasia yang tersembunyi. Jika ucapan itu sudah terdengar oleh publik, maka ada beberapa konsekwensi. Oleh karena itu hendaklah berucap dengan hati-hati dan terukur, dengan harapan tidak membuat sakit hati lawan bicara atau publik.

Rasulullah Saw dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, bersabda bahwa, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam."

Berselancar di dunia maya membuat kita melakukan banyak hal. Tentu, dari sekian banyak hal yang kita lakukan berpotensi menyinggung orang lain.
Lisan kita bisa menjadi tajam melalui status dan unggahan yang kita buat. Diperkuat dengan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah bersabda, "Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan."

Selain itu, Allah juga telah memperingatkan manusia mengenai pentingnya menjaga lisan. Sebab, akan selalu ada malaikat yang tak akan luput mencatat setiap ucapan manusia, baik ataupun buruk. Hal tersebut Allah Ta'ala firmankan dalam surah Qaaf ayat 18;

" Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."

Menurut hadis dan firman Allah tersebut, sebaiknya seorang hamba harus bisa menjaga lisan. Apalagi di era media sosial seperti saat ini. Daripada bergosip atau bergunjing mengenai persoalan yang belum tentu benar, apalagi menjurus ke fitnah, seseorang hendaknya lebih baik diam.

Salah seorang ahli hikmah berkata, "Tetaplah diam, maka engkau dihitung sebagai orang bijaksana. Baik engkau bodoh atau berilmu." Dilanjutkan seorang orator mengatakan, "Ikatlah lidahmu, kecuali dari kebenaran yang kau jelaskan, kebatilan yang kau patahkan argumentasinya, hikmah yang kau sebarkan, atau kenikmatan yang kau sebutkan."

Jelas bahwa lidah bisa mendekatkan kita pada kehinaan maupun kebinasaan, namun jika lidah ditaruh dibelakang hati maka ucapan kita ada yang melakukan filter. Sebelum kata-kata dari lidah keluar akan di saring dulu oleh hati, jika membawa manfaat maka dikeluarkannya dalam ucapan dan jika sekiranya membawa keburukan maka diam lebih elok.

Di dalam ucapan, ada tatakrama atau bisa dikatakan syarat. Pertama, ucapan hendaknya mempunyai alasan dan jika tidak ada alasan itu adalah seperti orang mengigau. Sedang ucapan yang tidak ada sebab sama sekali itu merupakan ucapan yang buruk. Ucapan yang tiada alasan menjadikan sia-sia dan tidak bermakna. Ingatlah kata ahli hikmah ini, "Jika engkau duduk bersama orang-bodoh, maka diamlah. Jika engkau duduk dengan orang-orang berilmu, maka diamlah. Diammu terhadap orang-orang bodoh menambah murah hati. Diammu terhadap orang-orang berilmu menambah ilmu.

Kedua, membatasi ucapan sesuai kebutuhan. Apabila ucapan tidak dibatasi dengan kebutuhan dan tidak diukur secukupnya, maka tujuan ucapan menjadi tidak terbatas. Ketika ucapan tidak dibatasi, maka ia menjadi gagap saat lemah atau menjadi ocehan ( tidak bermanfaat ) saat terlalu banyak.

Salah seorang ahli hikmah melihat seorang laki-laki banyak bicara dan jarang diam. Lalu ahli hikmah itu berkata, " Allah menciptakan dua telinga dan satu mulut, agar apa yang engkau dengarkan lebih banyak dari apa yang engkau bicarakan." Ini menunjukkan bahwa kebiasaan seorang yang bicara banyak hendaklah hati-hati, jika kontennya tidak bermanfaat maka laksana ocehan saja. Oleh karena itu saat ingin bicara, ke depankan hati agar apa yang akan diucapkan bisa difilter dulu. Seorang sastrawan berkata, " Gagap masih lebih baik dari mengoceh, karena gagap melemahkan argumentasi, sedangkan ocehan merusak nyawa."

Ketiga, menghadirkan ucapan hendaknya pada saat waktu dan tempat yang tepat. Adapun ucapan yang tidak bermanfaat hendaknya dihindari, karena akan membuang-buang waktu dan konsentrasi orang yang mendengar. Apabila engkau mendahulukan ucapan yang seharusnya diakhirkan, maka itu adalah ketergesa-gesaan. Dan jika engkau mengakhirkan ucapan yang seharusnya didahulukan, maka itu terlambat dan merupakan kelemahan. Ingatlah bahwa setiap tempat ada ucapan yang sesuai dan setiap waktu mempunyai perbuatan yang khusus.

Ucapan juga bisa menunjukkan tingkat karakter seseorang. Jika seseorang mengucapkan atau mengutarakan suatu gagasan/ide/pemikiran, maka seseorang itu mempunyai pandangan atau pemikiran yang besar. Adapula yang hanya mengucapkan/mengungkapkan suatu peristiwa, maka ia adalah biasa-biasa saja. Adapun seseorang selalu mengucapkan/membicarakan personal/pribadi, maka ia tergolong yang perlu meningkatkan diri.

Hati-hati dalam berucap merupakan langkah bijak dan akan membawa kebaikan, semoga kita selalu mengingat beberapa syarat tersebut dan selalu menjaga hati, agar ucapan kita menjadi lebih santun dan sejuk.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

(erd/erd)