Kontemplasi Qalbu (22)

Mengatasi Stres

Prof. Nasaruddin Umar - detikNews
Jumat, 21 Jan 2022 05:10 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Stres ialah suatu kondisi di mana seseorang berada di dalam ketegangan karena adanya tidak jelasan antara harapan dan kenyataan. Perbuatan stress bisa tampak di dalam berbagai fenomena, baik fenomena fisik maupun psikis. Fenomena fisik bisa dalam bentuk gangguan fisik seperti gatal-gatal, pusing, muat, dan sakit perut. Fenomena psikis bisa dalam bentuk uring-uringan, marah-marah, dan diam dengan 1000 bahasa. Sebenarnya stres tidak selamanya negatif. Tantangan beban kerja bagi para eksekutif dapat melahirkan kreasi-kreasi baru di dalam menyelesaikan suatu persoalan. Selalu ada saja ide spontanitas jika seseorang itu terdesak waktu. Bahkan ada yang mengatakan, hidup yang samasekali bebas dari stres sama bahayanya dengan stres, bahkan bisa lebih buruk lagi. Hidup tanpa stres tidak memberi peluang untuk berkembang. Malah yang terjadi adalah suasana monoton, membosankan, dan stagnan.

Banyak sekali faktor yang dapat memicu stress (stressor). Ada faktor dari luar diri seseorang dan ada faktor dari dalam. Pemicu stres dari luar antara lain dikejar-kejar dead line dalam suatu urusan, konflik dengan seseorang, termasuk konflik rumah tangga, baru saja di PHK, tuntutan ekonomi mendesak, dan janji mendesak untuk ditunaikan. Faktor dari dalam ialah kekecewaan berat yang melanda dirinya karena kekeliruannya di dalam mengambil kesimpulan dan keputusan, penyakitnya tak kunjung sembuh, dan negative thinking pada dirinya sendiri semakin berat dengan hadirnya masalah yang bertubi-tubi.

Lebih kongkrit tanda-tanda stress itu sudah diidentifikasi para ahli, seperti dikemukakan oleh Sean Covey antara lain: Keletihan yang tanpa diketahui sebab-musababnya, gangguan makan, misalnya kehilangan nafsu makan, gangguan tidur misalnya tidak bisa tidur atau gampang terbangun, keluarnya air mata tanpa terkendalikan, terlintas pikiran untuk bunuh diri atau berdoa agar Tuhan mengambil nyawanya, hilangnya keterkaitan pada hal-hal khusus pada dirinya seperti berpakaian necis, tidak bisa focus dan berkonsentrasi dalam pekerjaan, sering merasa mengerut ketika sedang sakit ringan, tegang atau pening tanpa diketahui sebab-akibat, minum alkohol berlebihan, lekas marah dan mudah tersinggung, dan sering-sering muncul pemikiran radikal.

Bagaimanapun juga kita tidak bisa menghindari stress. Yang kita harus lakukan ialah bagaimana mengurangi stres itu sampai dalam batas yang wajar. Stres disebabkan oleh banyaknya tuntutan yang harus diselesaikan dalam waktu relatif bersamaan. Karena itu, hanya orang yang mampu mengatasi stres dapat bertahan hidup secara wajar.


Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian kita ialah jangan sampai kita menanam bibit-bit stress, yaitu menginvestasikan perasaan kita kepada orang lain atau suatu obyek tertentu yang pada gilirannya akan kita menuai stres. Di antara bibit-bit stress itu ialah menjadi penggemar fanatik seorang figur atau sebuah tim.

Begitu figur favoritnya kalah atau terpeleset maka dirinya pun ikut serta di dalamnya. Terlalu berharap banyak kepada seseorang, tetapi begitu orang itu berbalik maka stress melanda dirinya. Menaruh harapan pada hal-hal bersifat spekulatif, seperti berjudi, dan bermain di pasar saham atau pialang. Begitu kalah beban berat terpikul di pundaknya. Terlalu banyak menceritakan rahasia pribadi kepada orang lain, begitu berpisah maka stress terjadi karena khawatir rahasianya terbongkar. Terlalu banyak berpindah-pindah tempat kerja atau tempat tinggal, sehingga seperti tidak punya pegangan dalam hidup.

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

Lihat juga Video: Bisakah Agama Bantu Atasi Stres?

[Gambas:Video 20detik]



(erd/erd)