17 PMI Ilegal Ditemukan Tumpangi Sampan Kecil di Perairan Tanjungbalai

Perdana Ramadhan - detikNews
Kamis, 20 Jan 2022 16:28 WIB
Belasan PMI legal ditemukan tumpangi sampan kecil di perairan Tanjungbalai
Belasan PMI ilegal ditemukan menumpang sampan kecil di perairan Tanjungbalai. (Dok. Istimewa)
Tanjungbalai -

Sebanyak 17 pekerja migran illegal (PMI) dari berbagai daerah kembali ditemukan oleh tim Fleet 1Quick Response (F1QR) Pangkalan TNI AL (Lanal) Tanjungbalai Asahan (TBA) berdesakan di atas sampan kecil nelayan.

Mereka merupakan rombongan pekerja yang didominasi tanpa dokumen keimigrasian, nekat pulang ke Indonesia setelah beberapa waktu bekerja di Malaysia melalui jalur laut dan rencananya mendarat di pelabuhan tikus di wilayah Asahan.

"Patroli keamanan laut kami menemukan mereka pada dini hari, jam 2 hari Rabu (19/1) di atas sampan. Penumpang berdesakan ada 17 orang, laki-laki semua. Mereka baru melakukan perjalanan dari Malaysia untuk pulang ke Indonesia," kata Komandan Lanal TBA Letkol Laut (P) Robinson Hendrik Etwiory dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (20/1/2022).

Posisi para penumpang saat ditemukan cukup kelelahan hingga akhirnya sampan mereka digiring menuju Pos Pemantauan TNI AL. Selain mengamankan seluruh penumpang, 3 nelayan yang membawa para PMI ini turut diamankan.

Ketiga nelayan ini saat berada di tengah laut, mengaku ditawarkan oleh kapal lain berukuran 5GT untuk membawa 17 orang PMI illegal ke darat melalui perairan Asahan. Atas jasa itu, tiga nelayan ini diupah Rp 150 ribu.

"Jadi memang modusnya seperti ini mereka langsir di perbatasan dari kapal Malaysia ke Indonesia, kemudian setelah mendekat ke daratan langsir lagi ke kapal yang lebih kecil," kata Robinson sembari menegaskan pihaknya akan tetap memburu para pelaku yang masuk dalam tindak kejahatan pidana perdagangan orang.

Adun (38), salah seorang PMI asal Bengkulu, mengaku terpaksa memilih pulang melalui jalur tak resmi dan harus merogoh kantong sebesar 1.500-2.000 ringgit Malaysia atau setara dengan Rp 5-6,8 juta.

"Saya udah tak punya dokumen lagi selama di Malaysia ditahan majikan. Jadi terpaksa nekat pulang cara begini. Kami itu di laut sudah 5 malam baru sampai di sini, rasanya mau mati," kata dia.

Sementara itu, Kepala Kantor Imigrasi Tanjungbalai melalui Kasi Intelijen dan Penindakan, Torang Pardosi menyebut sejak 2020 hingga saat ini ada sebanyak 1.119 orang yang berupaya masuk ataupun keluar melalui jalur perairan illegal di wilayah Asahan.

"Terhadap PMI ilegal ini yang tertangkap kita berikan sangsi administrasi. Nama mereka tidak bisa lagi mengurus dokumen imigrasi seperti paspor. Namun kendalanya banyak yang diamankan tidak memiliki identitas sama sekali," jelasnya.

Terkait hal ini, Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Medan, Siti Rolijah, saat dimintai konfirmasi wartawan menyatakan akan membatu fasilitas kepulangan secara bertahap para PMI ke daerah asal masing-masing setelah terlebih dahulu diberikan pembinaan.

"Saran kami ke pada PMI ini tempuh lah jalur resmi yang disediakan pemerintah. Jalurnya tidak sulit asalkan mau berkoordinasi dengan dinas tenaga kerja di daerahnya. Jadi sudah punya keahlian bekerja dan modal sebelum ke luar negeri," kata dia.

(mud/mud)