Warga Magelang Tumpengan Pasir

Merapi Siaga

Warga Magelang Tumpengan Pasir

- detikNews
Senin, 08 Mei 2006 18:14 WIB
Yogyakarta - Agar diberikan keselamatan bila Gunung Merapi meletus, ratusan warga Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang menggelar acara doa bersama dan tumpengan, Senin (8/5/2006).Namun tumpeng yang disajikan bukanlah seperti tumpeng yang kita kenal, yang terdiri nasi beserta lauk pauk dan ingkung ayam. Tumpeng ini berupa tumpeng terbuat dari pasir setinggi 1,25 meter. Ini mengandung maksud kawasan Srumbung selama ini terkenal hasil tambang pasir terbaik. Selain itu, warga sekitar Srumbung sebagian besar mengandalkan kehidupan dari mencari pasir dari Merapi.Acara yang digelar di Ponpes Mishbahudh Dholam Dusun Bendan Desa Ngargosoko Kecamatan Srumbung antara lain dihadiri oleh Gus Yusuf Chudhori dari TeglarejoMagelang, adik Sri Sultan Hamengku Buwono X, GBPH Joyokusumo, Yenny Wahid dan sejumlah kiai dari wilayah Srumbung.Sebelum acara doa bersama, dilakukan acara ritual tumpengan pasir. Tiga orang berpakaian putih-putih membawa tiga kendi berisi air, diiringi tembang Dandang Gula, karya Sunan Kalijaga, "Kidung Rumeksa ing Wengi." Ketiganya kemudian menyiramkan air di sekeliling tumpeng pasir yang dipasangi beberapa tanaman yang menggambar hutan Merapi. Ritual diakhiri dengan melakukan tapa pendhem di sekeliling tumpeng. Hal itu mengandung maksud seharusnya manusia tidak berlaku tamak tetapi ikut menjaga kelestarian Merapi. Kawasan Merapi yang dulunya sejuk dan asri, saat ini sudah berubah.Menurut salah satu panitia, M. Achadi, saat ini Merapi terus eksploitasi hasil tambang pasir tanpa memikirkan keseimbangan alam. Dulu sebelum berbagai alat berat masuk untuk menambang pasir, warga sekitar Srumbung mengambil pasir seperlu dan semampunya."Dulu masyarakat punya filosofi, pasir kanggo urip, sekarang sudah berubah. Pasir untuk bakulan atau dijual dengan cara dikeruk hingga habis tak tersisa," katanya. Sementara itu Yusuf Chudhori dalam ceramahnya mengingatkan bila Merapi itu ibarat saudara sendiri yang hidup dan tinggal bersama sejak lama. Namun kenapa saat ini, Merapi marah hingga akan meletus."Kenapa, sampai Merapi matanya melotot merah. Apa persaudaran kita kurang sempurna.Bila marah pasti ada sebabnya," tanya Gus Yusuf.Dia mengingatkan seharusnya Merapi dengan warga bisa hidup berdampingan. Seharusnya Merapi itu bisa memberikan kehidupan dan berkah kepada warga. "Kita tidak boleh rakus, tapi juga harus pasrah dan tawakal dan semua kenikmatan yang diberikan Allah melalui Merapi bisa dijaga dengan baik," katanya. (nrl/)


Berita Terkait