Polri Bicara Soal KKB Papua: Kekerasan Bukan Jalan Satu-satunya

Rakha Arlyanto Darmawan - detikNews
Rabu, 19 Jan 2022 17:53 WIB
TNI-Polri Kontak Tembak dengan KKB di Bandara Ilaga (Foto: Antara)
TNI-Polri di Bandara Ilaga, Papua (Foto: dok. Antara)
Jakarta -

Polri resmi mengubah sandi operasi untuk menangani kekerasan kelompok bersenjata (KKB) di Papua, dari Nemangkawi menjadi Operasi Damai Cartenz. Polri tetap mengedepankan upaya persuasif dan preventif.

"Maka kami melakukan upaya pendekatan persuasif, pendekatan pencegahan. Kalau upaya kekerasan ketemu kekerasan, saya kira mengubah pendekatan kepada masyarakat, karena ini masyarakat kita," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan kepada wartawan di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel), Rabu (19/1/2022).

Ramadhan menyebut Operasi Damai Cartenz akan semaksimal mungkin menghindari kekerasan. Ramadhan menegaskan kekerasan bukan satu-satunya cara dalam menangani KKB.

"Tujuannya intinya, bagaimana masyarakat Papua ini tercipta rasa aman. Tentu akan menghilangkan kekerasan. Upaya kekerasan bukan jalan satu-satunya," ungkap Ramadhan.

Arahan Kapolda Papua

Sebelumnya, Operasi Damai Cartenz resmi digelar. Kapolda Papua Irjen Mathius D Fakhiri memerintahkan seluruh personel dapat menahan diri dan menghindari kontak tembak dengan teroris kelompok kriminal bersenjata (KKB).

"Saya sudah minta kita selalu harus bisa menahan diri. Selama ini kan kita dalam kasus penembakan kita aktif merespons, dalam merespons ini selalu ada kontak tembak," ujar Mathius dalam keterangannya hari ini.

Mathius mengatakan kontak tembak dengan KKB bisa berdampak negatif terhadap pemerintah. Hal itu juga kerap dimanfaatkan pihak lawan untuk menjatuhkan kredibilitas pemerintah.

"Kontak tembak ini lebih pada sisi negatif daripada positifnya karena yang berseberangan memanfaatkan momen ini untuk men-judge atau menjatuhkan kredibilitas pemerintah," kata Mathius.

Untuk diketahui, sebanyak 1.925 personel dikerahkan dalam Operasi Damai Cartenz. Operasi tersebut terdiri dari sejumlah personel TNI dan Polri.

"Dilaksanakan oleh Polda Papua yang di-backup oleh Mabes Polri dan TNI dengan jumlah personel yang terlibat sebanyak 1.925 personel," ucap Ramadhan, Selasa (18/1).

(rak/aud)