Rumah Korban Banjir-Longsor 2020 di Bogor Belum Beres, Ini Kendalanya

Rizky Adha Mahendra - detikNews
Selasa, 18 Jan 2022 19:35 WIB
Petugas mengevakuasi korban terdampak banjir di Perum Vila Nusa Indah Gunungputri Bogor, Jumat (19/2/2021).
Ilustrasi banjir di Bogor (Foto: dok. Tagana Kabupaten Bogor)
Bogor -

Pembangunan rumah korban banjir dan longsor di Bogor, Jawa Barat, pada 2020 belum rampung. Apa kendalanya?

Pangdam Siliwangi Mayjen Agus Subiyanto menjelaskan salah satu permasalahannya, tanah yang hendak digunakan adalah milik PT Perkebunan Nusantara III (PTPN). Sehingga Pemkab Bogor harus mengganti setiap pohon yang ditebang guna membangun hunian tetap.

"Karena permasalahan lahan, di mana tanah tersebut adalah tanah PTPN, yang memang di sini Pemda harus mengganti pohon yang ada di PTPN," kata Mayjen Agus Subiyanto kepada wartawan, Senin (17/1/2022).

Mayjen Agus menjelaskan beberapa tahapan dalam proses rehabilitasi bencana dimulai dari membangun hunian sementara (huntara), kemudian membangun hunian tetap (huntap).

Huntara telah 100 persen dibangun untuk korban bencana. Sedangkan huntap baru dibangun 500 rumah, dan rencananya akan dibangun 500 lagi.

Bupati Bogor Ade Yasin menjelaskan dana dari BNPB sudah ada di tangan Pemkab. Kendala lainnya, PTPN belum mengizinkan Pemkab melakukan pembersihan lahan karena harus mengganti rugi.

"Kendalanya masih di PTPN belum mengizinkan kami untuk land clearing karena harus ganti rugi," ujar Ade Yasin pada kesempatan yang sama.

Diberitakan sebelumnya, Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB melakukan rekapitulasi data dampak banjir dan longsor di Jabodetabek dan Lebak pada 2020. BNPB mencatat adanya kenaikan jumlah pengungsi di Kabupaten Bogor.

"Hari ini, Minggu 12 Januari 2020, pukul 18.00 WIB menunjukkan bertambah menjadi 21.742 jiwa di 33 titik pengungsian. Hal ini disebabkan adanya pengungsi yang belum terdata," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Agus Wibowo dalam keterangan pers, Minggu (12/1/2020).

(isa/isa)