Dikeroyok Malah Dituduh Ngonten, Pelajar Makassar Ogah Sekolah Gegara Malu

Muhammad Taufiqqurrahman - detikNews
Senin, 17 Jan 2022 13:48 WIB
poster
Foto: Edi Wahyono/detikcom
Makassar -

Siswi SMP yang menjadi korban perundungan namun sempat dikira cuma konten media sosial di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), tidak lagi masuk sekolah karena mengalami tekanan psikologis. Pihak keluarga akhirnya berencana memindahkan korban ke sekolah lain.

"Jadi semenjak kejadian ini anaknya sudah tidak masuk sekolah dan belakangan ini murung dan sering melamun," kata paman korban, Andi Patarai Lolo, saat dimintai konfirmasi, Senin (17/1/2022).

Sejak dikeroyok pada Jumat (7/1), korban berinisial IR (13) itu menjalani pendampingan psikologis dari pihak Komisi Perlindungan Anak (KPA) sejak pekan lalu, dan pada pekan ini masih akan melakukan pendampingan lagi. Namun, dia menyebut alasan korban enggan kembali bersekolah lantaran malu setelah video perundungan menyebar di media sosial.

Tidak hanya itu, Andi menyebut hingga saat ini belum ada tindakan dari pihak sekolah untuk datang membujuk korban agar kembali melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.

Akhirnya pihak keluarga bersepakat memindahkan korban ke sekolah yang lain. Pihak keluarga sedang berupaya mengurus kepindahan siswi ini dan menyebut sudah ada sekolah lain yang siap menampung.

"Iya pasti malu, secara psikologis malulah. Belum ada tuh dari pihak sekolah (datang), belum pernah. Sudah ada sekolah yang mau menampung," sebutnya.

Soal pelaporan ke pihak kepolisian, pihaknya menegaskan tidak berencana menempuh jalan damai dengan alasan sebagai pembelajaran bagi para pelaku perundungan agar tidak berbuat hal yang serupa di masa akan datang.

"Kami tetap menyerahkan ke proses hukum, sementara berjalan ini di kepolisian, supaya masyarakat bisa melihat, menilai, dan memahami bahwa meski di bawah umur, anak -anak seperti ini kan sudah kekerasan dan tindak kriminal. Pesan ini yang kita mau sampaikan, meski di bawah umur, harus ada prosedur," tegas Andi.

Untuk diketahui, kasus ini bermula saat viral video korban dikeroyok oleh tiga rekannya. Sejumlah pihak, termasuk Kadisdik Makassar Muhyiddin, sempat menyebut video viral merupakan perkelahian demi konten media sosial. Dalam konteks ini, Kadisdik Muhyiddin sudah meminta maaf dan mengakui pernyataannya keliru.

Belakangan, orang tua siswi yang dikeroyok, Andi Idris menegaskan putrinya tak berkelahi demi konten. Dia menyebut putrinya dikeroyok dan juga telah melaporkan pengeroyokan itu ke polisi dengan bukti visum.

(hmw/mud)