BMKG Sebut Ada Potensi Gempa M 8,7 di Banten, tapi Entah Kapan

Azhar Bagas Ramadhan - detikNews
Sabtu, 15 Jan 2022 12:53 WIB
Info Gempa BMKG: Pusatnya di Pacitan, Terasa Sampai Yogya
Seismograf, alat perekam getaran gempa (Robby Bernardi/detikcom)
Jakarta -

BMKG menyebut adanya potensi gempa sebesar magnitudo 8,7 di Banten. Namun potensi tersebut tidak dapat diprediksi.

"Sebenarnya gempa kemarin itu bukan ancaman sesungguhnya ya, ancaman sesungguhnya itu ada di magnitudo 8,7, tapi entah kapan kami nggak tahu, tapi nggak bisa diprediksi," kata Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono saat dihubungi detikcom, Sabtu (15/1/2022).

Daryono mengatakan semua pihak sebaiknya segera menyiapkan mitigasi untuk kemungkinan menghadapi potensi gempa itu. Dia mengimbau masyarakat tidak panik.

"Jadi kita harus menyiapkan mitigasi dengan baik di Selat Sunda, Banten, Lampung, Jawa Barat, Bengkulu. Jadi kita menyiapkan itu," katanya.

"Tapi kita nggak usah terlalu pusing dan ketakutan, tapi ini dalam ketidakpastian kita masih bisa melakukan upaya mitigasi," katanya.

Daryono mengatakan BMKG belum bisa memprediksi kapan terjadinya gempa tersebut. Dia menyebut BMKG dan pihak terkait masih memiliki kesempatan untuk mempersiapkan segala hal untuk mencegah efek dari gempa itu.

"Ya itu tadi, terkait dengan potensi itu, kita belum bisa memprediksi ya, tapi kapan terjadinya tidak tahu. Kita masih bisa menyiapkannya mitigasi konkret seperti membangun bangunan tahan gempa, kemudian merujuk tata ruang aman dari risiko tsunami, kemudian menyiapkan jalur evakuasi, memasang rambu evakuasi agar sampai ke tempat aman lebih cepat," kata Daryono.

"Membangun tempat evakuasi, termasuk edukasi evakuasi mandiri. Kalau merasa di pantai, ya segera meninggalkan pantai, jangan bertahan di pantai, itu berbahaya kalau berpotensi tsunami, itu saja," sambungnya.

Sebelumnya, gempa berkekuatan magnitudo (M) 6,7, yang kemudian diperbarui menjadi M 6,6, di Banten mengguncang Jakarta hingga Lampung. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan tidak adanya indikasi kenaikan permukaan air laut imbas gempa tersebut.

"Berdasarkan data monitoring kami, ada tide gauge, kemudian ada juga buoy (sistem peringatan tsunami) BPPT, di situ tidak ada indikasi kenaikan air muka laut," kata Dwikorita dalam konferensi pers virtual, Jumat (14/1).

Dwikorita mengatakan tidak adanya kenaikan permukaan air laut itu juga disaksikan langsung oleh Kepala Stasiun Geofisika Tangerang, yang saat itu melakukan pengawasan.

"Kepala Stasiun Geofisika Tangerang juga di sana, melaporkan tidak terjadi kenaikan muka air laut," ungkapnya.

Karena itu, menurut Dwikorita, prediksi bahwa gempa M 6,6 yang berpusat di 52 km arah barat daya dari Sumur, Banten, ini tidak menimbulkan potensi tsunami benar adanya.

"Jadi prediksi tidak berpotensi tsunami nampaknya terverifikasi tidak terjadi tsunami," tutur Dwikorita.

Gempa M 6,6 itu terjadi pada pukul 16.05 WIB. Episenter gempa adalah 7,01 LS dan 105,26 BT. Pusat gempa 52 km arah barat daya dari Sumur, Banten, dengan kedalaman 10 km.

Gempa ini kuat dirasakan di sejumlah wilayah. Wilayah-wilayah tersebut Jakarta, Tangerang, Bandung, hingga Lampung.

Simak juga Video: BMKG Ungkap Ada Peningkatan Aktivitas Gempa di Jabar 30 Hari Terakhir

[Gambas:Video 20detik]



(azh/idh)