Pos Pengungsian Merapi di Manisrenggo Kosong Melompong
Minggu, 07 Mei 2006 16:18 WIB
Klaten - Aktivitas Gunung Merapi yang semakin meningkat tidak membuat ciut nyali warga yang menghuni lerengnya. Pos pengungsian di Desa Nglempakseneng, Manisrenggo, Klaten, terlihat kosong. Bahkan Minggu (7/4/2006) pagi, satu petugas pun tidak nampak. Tenda ukuran besar yang didirikan Depsos di halaman Balai Desa Nglempakseneng terlihat tidak terawat. Kondisi di dalamnya dipenuhi rumput yang tumbuh cukup tinggi dan di sana-sini ada lumpur dan genangan air. Peralatan komunikasi berupa HT dan telepon portable tergeletak di atas meja. Di sebelahnya ada tenda dengan ukuran yang jauh lebih besar lagi yang diberi bendera dan spanduk sebuah partai. Tenda itu tertutup rapat, sama sekali tidak ada tanda-tanda ada orang di dalamnya. Di seberangnya juga ada dua pos milik sebuah partai dan sebuah ormas. Juga sepi dan tanpa penunggu, apalagi aktivitas. Sebuah mobil milik PMI terparkir di halaman balai desa. Kondisinya dingin dan dapat dipastikan bahwa mobil itu telah menginap semalaman. Minggu (7/5/2005) hingga pukul 09.00 WIB, tidak ada satu pun petugas satuan pelaksana penanganan bencana (Satlak PB) Merapi terlihat di lokasi itu. Pos Nglempakseneng telah dua malam terakhir ditinggal oleh puluhan warga asal Desa Balerante yang diungsikan di tempat tersebut. Selama mengungsi, mereka tidur di gedung lapangan bulutangkis yang berada di dalam kompleks balai desa. Satu-satunya orang yang berada di lokasi adalah lelaki tua bernama Wagimin, petugas kebersihan di kantor desa tersebut. Wagimin menuturkan warga dari Balerante yang diungsikan ke tempat itu memang sedikit demi sedikit berangsur-angsur pulang kembali ke rumah masing-masing. "Mulai benar-benar kosong ya sejak Jumat malam. Mereka pulang sendiri ke rumahnya dengan mencegat truk yang lewat ke arah desanya. Alasannya macam-macam. Ada yang karena kangen rumah dan keluarga, ada yang mengaku tanamannya di sawah tidak terurus dan lain-lainnya," papar Wagimin. Semenjak kosong itu, lanjut Wagimin, petugas juga mulai berkurang aktivitasnya. Meskipun demikian tetap ada petugas jaga di malam hari, setidaknya dilakukan oleh hansip dari desa Ngemplakseneng. Kondisi agak berbeda terlihat di Pos Pengungsian Dompol, Kecamatan Kemalang, yang menampung warga dari Desa Tegalmulyo dan Pos Pengungsian Desa Keputran, Kemalang, yang menampung warga Sidorejo. Di kedua pengungsian itu masih tertampung masing-masing 937 jiwa dan 986 jiwa.Diakui oleh petugas di Pos Keputran, memang pernah ada sekitar dua ratus pengungsi dari Sidorejo yang memilih pulang dengan berbagai alasan. Namun di Pos Dompol, justru ada lima tambahan pengungsi. "Setelah melihat kondisi di puncak, mereka memilih bergabung di sini," ujar seorang petugas di Dompol. Sumo Wiyono (70 tahun), warga di Sidorejo, mengaku memilih pulang dari pengungsian karena tanamannya terlantar semenjak beberapa hari berada di pengungsian. Sebagian besar tanaman cabe merah miliknya akhirnya membusuk karena telah melewati umur masa panen. "Beberapa hari lalu sempat ditawar orang Rp 7 juta, tapi sekarang mungkin untuk mendapat Rp 1 juta saja sudah sulit. Hampir seluruhnya sudah busuk karena tidak terawat," papar Sumo saat ditemui di lahan garapannya sambil memilah cabe yang masih mungkin untuk dipanen dan dijual.
(asy/)











































