Polisi Proses Hukum Ferdinand Hutahaean Dinilai Teladan Agar Adab Bermedsos

Audrey Santoso - detikNews
Kamis, 13 Jan 2022 22:41 WIB
Anggota Pembina Yayasan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Mari Pangestu (kiri) selaku moderator berbicara disaksikan para nara sumber, Pemerhati Pendidikan Doni Koesoema A (kedua kiri), Ketua Departemen Ilmu Ekonomi UI Teguh Dartanto (tengah), Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS Haryo Aswicahyono (kedua kanan) dan Pengamat Sosial Budaya Vokasi UI Devie Rahmawati (kanan) pada Diskusi Seri Pemilu 2019 yang digelar CSIS, di Jakarta, Senin (18/3/2019). 

Dalam diskusi ini para narasumber membahas mengenai komitmen para capres/cawapres dalam pengembangan sektor pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan dan sosial budaya yang sebelumnya telah dilontarkan para cawapres dalam acara Debat Cawapres 2019 putaran ketiga.
Foto: Pengamat sosial, Devie Rahmawati (kanan) (Agung Pambudhy/detikcom)

Berdasarkan hasil studi tersebut, sambung Devie, komunikasi buruk pengguna ruang digital di Tanah Air disumbang orang dewasa sebanyak 68 persen. Tiga hal yang disorot adalah hoaks, penipuan online dan ujaran kebencian.

Devie menjelaskan situasi pandemi COVID-19 telah mendorong masyarakat dunia, termasuk warga Indonesia, menghabiskan waktu di ruang digital. Devie mengutip data yang dilansir Google soal kenaikan angka pengguna layanan digital.

"Pandemi 2020 telah mendorong seluruh masyarakat dunia tidak terkecuali Indonesia, kemudian mendadak digital. Bahkan menurut data Google, Temasek dan Bain, terjadi penambahan pengguna layanan digital sebanyak 21 juta," ucap Devie.

"Hidup di ruang digital, tentu saja menuntut tatanan perilaku yang juga beradab, sebagaimana layaknya kehidupan di ruang nyata. Survei lain yang dilansir oleh Broandband Search misalnya, menyebutkan bahwa memang lelaku warga digital Indonesia memiliki kecenderungan untuk berperilaku negatif dengan ujaran kebencian, di mana perundungan fisik menempati peringkat tertinggi, di atas 60 persen," lanjut dia.

Devie berpendapat keterampilan digital bukan satu-satunya aspek seseorang siap berselancar di dunia virtual. Keamanan, budaya dan etika digital, sambung Devie, juga penting.

"Inilah yang mendorong presiden Jokowi pada Mei 2021 lalu meluncurkan kegiatan Makin Cakap Digital, yang telah mengedukasi keempat kecakapan dasar digital tersebut kepada lebih dari 14 juta masyarakat Indonesia di 514 kabupaten/kota," jelas dia.

"Untuk itu, kita harus menyadari bahwa tantangan kehidupan saat pandemi dan postpandemic ialah kemampuan membangun kehidupan yang beradab dan bermartabat di dua dunia sekaligus, dunia nyata dan dunia maya," tambah Devie.


(aud/fjp)