Jenazah Abdul Hadi Sempat Ditolak Warga
Sabtu, 06 Mei 2006 18:18 WIB
Sukoharjo - Keluarga memakamkan jenazah Abdul Hadi seperti pemakaman jenazah pada umumnya, bukan sebagai jenazah korban mati syahid. Sebelumnya, bahkan warga setempat ada yang keberatan jika jenazah Abdul Hadi dimakamkan di desanya. Informasi tentang adanya penolakan pemakaman jenazah AbdulHadi oleh sebagian warga itu disampaikan oleh Kepala Desa Kateguhan di sela-sela melayat di rumah duka Tegalrejo, Kateguhan, Tawangsari, Sukoharjo, Sabtu (6/4/2006). Dukuh Tegalrejo adalah perkampungan baru dan tidak memiliki area pemakaman kampung. Warganya yang meninggal dimakamkan di pemakaman umum Dukuh Karangasem yang bersebelahan. Warga Karangasem inilah yang sempat menolak jika Abdul Hadi dimakamkan di pemakaman umum kampung mereka. "Akhirnya kami pertemukan seluruh warga Karangasem untuk bermusyawarah. Setelah dimintai pendapat melalui voting, ternyata dengan berbagai pertimbangan sebagian besar warga Karangasem memperbolehkan jenazah Udin (Abdul Hadi -red) dimakamkan di pemakaman umum mereka," papar Sriyono. Saat pemakaman, warga setempat juga tidak banyak yang terlihat ikut mengantarkan maupun mengurus pemakaman. Semenjak keluar dari rumah hingga proses pemakaman, didominasi oleh puluhan pemuda berpeci dengan pakaian khas yang ternyata sebagian besar bukan warga setempat. Tidak Dipelakukan SyahidSementara itu keluarga Abdul Hadi alias Bahruddin Shaleh memutuskan untuk memperlakukan jenazah layaknya kematian biasa. Keluarga mengaku tidak dapat memberikan penilaian secara pasti apakah Udin, demikian Abdul Hadi biasa dipanggil, layak disebut sebagai korban mati syahid. "Dia menghilang tiga tahun lebih tanpa ada kontak dengan keluarga. Kami tidak tahu apa saja yang telah diperjuangkannya selama menghilang itu. Jadi kami tidak bisa menilai secara pasti apakah dia syahid atau bukan. Wallahu a'lam bishawab," ujar Anwar kepada detikcom di rumah duka. Karena itulah, kata Anwar, keluarga memutuskan untuk memperlakukan jenazah Abdul Hadi layaknya pemakaman umat muslim pada umumnya. Dia dimandikan dan diberi kafan. Baju yang dikenakan terakhir saat baku tembak dengan polisi sepekan lalu juga tidak disertakan ke pemakaman. Tentang adanya informasi yang mengatakan Abdul Wahab telah menikah selama menghilang, keluarga mengaku tidak tahu-menahu. Yang dapat dipastikan oleh keluarga adalah bahwa hingga awal 2003, saat terakhir kali meninggalkan rumah, Abdul Hadi alias Udin masih dalam status lajang. "Kami tidak tahu tentang hal itu. Hingga kini setelah sepekan Mas Udin meninggal juga belum ada seorangpun datang menemui kami mengaku sebagai istrinya atau anaknya. Yang dapat kami sampaikan Mas Udin masih bujang ketika terakhir kali meninggalkan rumah tahun 2003," ujar Habib, adik kandung Abdul Hadi.
(jon/)











































