Usai Batavia Tergelincir, Warga Khawatir Naik Boeing 737-200

Usai Batavia Tergelincir, Warga Khawatir Naik Boeing 737-200

- detikNews
Sabtu, 06 Mei 2006 17:23 WIB
Jakarta - Sehari setelah maskapai Batavia Air tergelincir di Bandara Soekarno-Hatta, sejumlah warga merasa khawatir naik pesawat jenis Boeing 737-200. Pasalnya, sejumlah kecelakaan terjadi pada pesawat jenis ini. Kasus jatuhnya pesawat Mandala Airlines di Medan beberapa waktu lalu masih segar dalam ingatan warga.Kekawatiran disampaikan sejumlah pembaca detikcom, Sabtu (6/5/2006) baik dengan mengirimkan email ke redaksi maupun melalui sambungan telepon. Cahyo misalnya, calon penumpang pesawat Batavia jurusan Balikpapan-Yogyakarta pada Minggu (7/5/2006) besok, sampai saat ini masih menunggu kepastian pihak Batavia apakah masih menggunakan pesawat jenis Boeing 737-200 untuk penerbangan Balikpapan-Yogyakarta atau tidak."Setahu saya kemarin ada pernyataan dari Dirjen Perhubungan Udara yang melarang untuk sementara waktu pengoperasian seluruh pesawat jenis Boeing 737-200. Kebetulan pesawat yang akan saya tumpangi besok jenisnya itu. Apakah pihak Batavia Air akan mengganti atau masih tetap operasikan itu," kata Cahyo.Pertanyaan senada diungkapkan Iwan, salah seorang pemegang tiket pesawat yang akan berangkat ke Makassar Senin mendatang. "Dephub sudah melarang sementara penggunaan pesawat Boeing 737-200. Apakah semua maskapai penerbangan sudah grounded. Karena setahu saya masih banyak maskapai yang menggunakan pesawat jenis ini," kata Iwan.Sebelumnya, Jumat (5/5/2006) kemarin, pemerintah melarang terbang sementara seluruh pesawat Boeing 737-200. Larangan terbang ini baru dicabut setelah ada pemeriksaan oleh Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara (DSKU) Departemen Perhubungan selesai. "Hari ini kami sudah menyurati setiap maskapai untuk menahan pesawat jenis tersebut dahulu sebelum selesai diperiksa," kata Dirjen Perhubungan Udara Moh. Iksan Tatang kepada wartawan Jumat kemarin. Saat ini ada sekitar 50 pesawat Boeing 737-200 yang dimiliki berbagai maskapai. Sekitar 15 buah di antaranya milik Batavia Air.Dijelaskan Tatang, pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui apakah Boeing 737-200 memang lemah dalam sistem hidrolik. Tim juga akan memeriksa seluruh komponen pesawat untuk memastikan bahwa tipe pesawat ini apakah masih laik terbang. "Kalau ada pesawat lain mengalami hal serupa atau ada kerusakan pada sistem mekaniknya, kami tidak akan izinkan terbang dulu," ujar Tatang.Menurut dia, pelarangan terbang ini bersifat wajib bagi setiap maskapai. Semua konsekuensi atau kerugian akibat kebijakan diserahkan ke maskapai, termasuk pesawat yang sudah mempunyai jadwal terbang. "Ini demi keselamatan. Jadi harus ditanggung bersama," tandasnya. (jon/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait