Puncak Omicron Diprediksi Februari, PKS Soroti Prokes Longgar

Dwi Andayani - detikNews
Kamis, 13 Jan 2022 07:12 WIB
Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI Netty Prasetiyani.
Foto: Netty Prasetiyani (dok: dpr.go.id)
Jakarta -

Pemerintah memprediksi puncak gelombang kasus Omicron terjadi pada awal Februari. Anggota Komisi IX DPR RI fraksi PKS Netty Prasetiyani meminta pemerintah lakukan evaluasi penanganan pada gelombang Delta sebelumnya.

"Berkaca pada gelombang tsunami Delta beberapa bulan yang lalu, saya berharap Pemerintah mampu mengevaluasi kebijakan penanganan pandemi pada waktu itu. Sistem dan fasilitas kesehatan kita 'kedodoran', tenaga kesehatan pun banyak yang berguguran," ujar Netty kepada wartawan, Rabu (12/1/2022).

Netty menilai saat ini mulai terjadi banyak pelonggaran prokes. Menurutnya, pemerintah perlu bergerak cepat mengencangkan pengawasan prokes.

"Saat ini kita melihat pelonggaran prokes terjadi dimana-mana. Mobilitas dan aktivitas masyarakat hampir kembali normal seperti sebelum datangnya pandemi," kata Netty.

"Seharusnya Pemerintah melalui satgas bergerak cepat untuk mengencangkan kembali kampanye dan pengawasan prokes 3M/5M. Selain itu, surveilans 3T; testing, tracing, dan treatment harus dipersiapkan mengantisipasi situasi terburuk," sambungnya.

Selain itu, percepatan vaksin dosis 1 dan 2 juga disebut perlu dilakukan. Sebab menurutnya masih banyak daerah yang persentase vaksinnya belum mencapai 70 persen.

"Tidak kalah penting Pemerintah harus mempercepat pelaksanaan vaksinasi dosis pertama dan kedua sebelum booster dilakukan secara masif. Masih banyak daerah yang belum mencapai 70 persen, seperti Sulbar, Maluku, Sumbar, Papua, dan Papua Barat," imbuhnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan prediksi puncak omicron itu berdasarkan hasil pengamatan terhadap pengalaman negara lain, di mana varian Omicron mencapai puncaknya dalam kisaran waktu 40 hari.

"Untuk kasus Indonesia, kita perkirakan puncak gelombang karena Omicron akan terjadi pada awal Februari," kata Luhut seperti dilansir Antara.

Meski begitu, lanjut Luhut, sebagian besar kasus yang terjadi berpotensi bergejala ringan. Sehingga pemerintah menyiapkan strategi yang berbeda dengan penanganan varian Delta.

Dia juga menuturkan saat ini Omicron telah teridentifikasi di 150 negara dan menimbulkan gelombang baru dengan puncak yang lebih tinggi di berbagai negara dunia. Di Indonesia, menurutnya bukan tidak mungkin mengalami hal serupa. Namun Luhut meminta masyarakat tidak perlu panik.

"Namun kita tidak perlu panik, tetapi kita tetap waspada. Karena pengalaman kita menghadapi Delta varian kemarin," ujarnya.

Simak Video: Prediksi Puncak Omicron dan Kesiapan Indonesia Menghadapinya

[Gambas:Video 20detik]



(dwia/lir)