Tak Ramah Anak-Ibu Hamil, Polisi Tidur di Makassar Disorot

Ibnu Munsir - detikNews
Rabu, 12 Jan 2022 14:33 WIB
Ilustrasi polisi tidur di Makassar (Ibnu Munsir/detikcom)
Ilustrasi Polisi Tidur di Makassar (Ibnu Munsir/detikcom)
Makassar -

Unit Layanan Terpadu (UPT) Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA) Makassar menyoroti banyaknya polisi tidur yang dipasang pada sembarang tempat di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Polisi tidur dianggap tak ramah terhadap anak hingga membuat ibu hamil (bumil) rawan keguguran.

"Anak-anak yang masih bayi dorong pakai kereta, anak-anak mau naik sepeda, terutama perempuan yang dalam keadaan hamil itu tidak ramah, dan itu rawan terjadi keguguran," kata Kepala UPT PPA Makassar Muslimin dalam keterangannya, Rabu (12/1/2022).

Muslimin menilai dampak buruk banyaknya polisi tidur pada sembarang tempat pada dasarnya jarang disadari secara langsung oleh masyarakat. Namun dia menegaskan kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama.

"Sebenarnya banyak gangguan-gangguan orang hamil, tapi kan tidak mungkin dilaporkan ke polisi atau identifikasi karena polisi tidur. Tapi permasalahannya dampaknya tidak langsung, tetapi goncangan itu pasti ada, pasti terganggu, jangankan orang hamil kita saja yang tiba-tiba rem motor mendadak itu rawan kecelakaan," katanya.

Menurut Muslimin, polisi tidur selama ini banyak dipasang di jalan, gang, atau lorong sehingga jelas mengganggu. Padahal jalan-jalan tersebut seharusnya tetap ramah pada anak dan perempuan hamil dengan tidak memasang polisi tidur.

"Kita idealnya cukup dengan tanda-tanda (marka) itu masyarakat sudah sadar bahwa harus pelan-pelan tetapi karena budaya masyarakat kita literasinya masih rendah, makanya masyarakat memang ini polisi tidur yang sesungguhnya itu tak ramah anak dan perempuan hamil," jelasnya.

Dia juga tak menampik apabila pembangunan polisi tidur sebenarnya untuk mencegah pengendara melaju kencang di jalan gang atau lorong. Namun Muslimin berharap tak ada lagi alasan bagi warga untuk membangun polisi tidur karena edukasi kebiasaan tertib berkendara bisa dilakukan dengan cara lain.

"Kalau itu sudah terbangun tidak perlu ada polisi tidur, masalahnya ini kan sekarang karena belum terbangun secara baik, akhirnya anak-anak tidak ada tegur, seenaknya membalap, tetapi kita mulai peduli terhadap anak tumbuh kembang anak, maka ini nanti akan terbangun, budaya itu akan terbangun," tegasnya.

"Pertama manusianya apakah manusianya ini sudah literasi budaya bacanya sudah bagus," pungkas Muslimin.

(hmw/mud)