Kangen Rumah, Pengungsi di Klaten Tinggalkan Barak

Kangen Rumah, Pengungsi di Klaten Tinggalkan Barak

- detikNews
Sabtu, 06 Mei 2006 12:44 WIB
Klaten - Karena mulai tidak kerasan, merasa bosan, tidak cocok menu masakan dan ingat ternak piaraannya, sebagian pengungsi di Klaten sudah meninggalkan barak Pengungsian. Bahkan ada pula yang mempercayai, setelah keluarnya lava pijar Gunung Merapi tidak akan meletus. Para pengungsi yang meninggalkan barak diantaranya pengungsi asal Desa Balerante, Sidorejo dan Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang. Sebanyak 35 pengungsidari Balerante yang ditampung di pos Desa Ngemplakseneng, Kecamatan Manisrenggo sudah banyak yang kembali ke rumah masing-masing. Pengungsi dari Desa Tegalmulyo yang berada di Pos Desa Dompol juga ada yang sudah pulang. Sebagian lagi pengungsi di Pos Desa Keputran Kemalang yang berasal dari Desa Sidorejo.Mereka pulang dengan berbagai alasan. Ada yang meresa sudah kangen dengan keluarga, khawatir ternak dan ladang tidak terurus atau dicuri. Namun adapula yang mengaku tidak cocok dengan menu masakan yang ada di barak. Mereka pulang ada yang dijemput keluarganya dan ada pula yang menggunakan truk atau mobil bak terbuka lainnya secara berombongan.Salah seorang pengungsi yang sudah pulang, Sutiyem (55) warga Desa Tegalmulyomengaku sudah kangen dengan keluarga. Sebab selama ini tinggal bersama suami dan dua anaknya, menantu beserta lima cucunya. Mereka tinggal berdekatan dalam satu pekarangan meski beda rumah. "Di barak, saya hanya tinggal bersama suami dan tetangga. Keluarga lain tidak ikut. Sudah kangen sama rumah," katanya. Menurut dia, bersama suaminya, hari Jumat sore kemarin memutuskan tidak pulang lagi ke barak karena khawatir hewan ternak sapinya tidak terurus. Sebab saatditinggal mengungsi diserahkan kepada anaknya yang tidak ikut mengungsi."Saya dan suami setiap hari yang mencarikan rumput. Terus terang saja kami kepikiran dan khawatir kalau ada apa-apa di rumah atau tidak ada yang ngurus sapi. Kalau suami pulang, ya ikut pulang," katanya.Ketika ditanya keluhan selama tinggal dibarak pengungsian, dia mengaku tidak ada masalah bercampur dengan pengungsi lain atau fasilitas yang ada di barakseperti tenda dan tikar. Soal kesehatan tim kesehatan juga terus melakukan pemeriksaan. Hanya saja dengan menu masakan yang ada sedikit kurang cocok karena tidak ada sayur berkuah. "Di barak masakannya lumayan enak dengan lauk tempe, tahu, telor, mie atau sayur kacang, tapi kami tidak cocok karena tidak ada kuahnya," kata Sutiyem.Menanggapi adanya pengungsi yang pulang, Camat Kemalang, Giyanta di posko kecamatan mengatakan sebenarnya pihak posko memberikan kebebasan danangkutan gratis tiap hari kepada pengungsi, bila hendak pulang ke rumah atau mengurusi ternak dan tanaman di ladang pada siang hari."Ini memang kita sayangkan, karena pulang ke rumah tapi tidak kembali lagi ke barak. Karena petugas menginginkan pada malam hari berada di barak baik dibarak Desa Keputran, Dompol Kemalang atau Desa Ngemplakseneng Manisrengo," katanya.Diakui Giyanta, sejak keluarnya lava pijar itu ada warga yang mempercayai bila Merapi tidak akan meletus. Namun sebenarnya persepsi itu keliru, karena setelahini Merapi masih terus meningkat aktivitasnya dan masih bisa mengeluarkan awan panas. "Ini akan merepotkan koordinasi petugas di posko, bila merekatidak kembali lagi," katanya. (jon/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait