Kolom Hikmah

Hegel, Gus Yahya dan Emissary NU Dunia

Ishaq Zubaedi Raqib - detikNews
Senin, 10 Jan 2022 06:12 WIB
Ishaq Zubaedi Raqib
Foto: Ishaq Zubaedi Raqib (Foto: Dokumen pribadi)
Jakarta -

Merenungi coverage perjuangan besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di bawah kepemimpinan KH Yahya Cholil Staquf, seperti melukis peta dan bangunan peradaban baru dunia. Namun, menyimak pandangan yang ditawarkan kepada sejumlah pihak, internal NU atau kalangan eksternal, dalam negeri dan luar negeri, langsung terbayang, bahwa pekerjaan ini tidak akan mudah.

Lihatlah catatan sejarah bangsa-bangsa di dunia. Dunia telah melahirkan nama-nama besar. Nama-nama yang telah membuat peta tapi dalam perjalanannya peta itu tetaplah sebuah peta yang hanya mudah dibaca si pelukis tapi tidak bagi pihak lain. Pendekatan yang tidak sama atas peta, telah melahirkan tafsir berbeda dari si pembuat peta. Sering karena ini, peta mengalami deviasi. Nasibnya berakhir dalam lipatan map.

Dalam peta dunia saat ini dan diskursus mutakhir, visi Gus Yahya akan dianggap anomali. Sebuah penyimpangan atau keanehan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata anomali dapat diartikan dengan sebuah ketidaknormalan. Secara garis besar, anomali bisa diartikan sebagai suatu keganjilan, keanehan, atau penyimpangan dari keadaan biasa (normal) yang berbeda dari kondisi umum suatu lingkungan. Persis normal baru di tengah pandemi Covid-19.

Sabda Sang Rasul

Dalam praktek, peta dan pemetaan membutuhkan waktu yang tidak terbatas. Proses _trial and error_ akan memperkaya khasanah dan perspektif implementasi peta tatanan paradaban dunia baru yang ditawarkan. Peta komunisme yang berjaya pada masanya, bisa jadi alarm. Sebagai tawaran nilai untuk tata dunia, ia menyebar dan melebar. Sayapnya mengembang hingga keluar dari batas-batas negara. Melahirkan Marxisme di daratan Eropa, lalu Maoisme di Tiongkok.

Visi besar Georg Wilhelm Friedrich Hegel memudahkan jalan mengalirnya paham komunisme. Para pemikir sayap kiri menggunakan filosofi dialektika Hegel. Ia filsuf yang menjadikan dialektika sebagai metode berfilsafat. Dialektika menurut Hegel adalah dua hal yang dipertentangkan lalu didamaikan. Teori ini dikenal dengan tesis (pengiyaan), antitesis (pengingkaran) dan sintesis (kesatuan kontradiksi). Karl Marx dan Friedrich Engels, secara signifikan dipengaruhi oleh Hegel.

Bagi Penulis, dalam hal tertentu, Gus Yahya agak Hegelian. Seperti Marx, anak kandung ideologis Gus Dur ini, juga ber- qiyas atas dialektika Hegel. Gus Yahya memperhadapkan tatanan lama dengan tananan baru versinya. Tapi jelas, Gus Yahya berbeda dengan Marx yang mereduksi peran Tuhan. Gus Yahya justeru berangkat dari terma teologis. Keyakinannya bahwa dunia butuh tananan baru, berangkat dari sabda Sang Rasul. Tokoh dunia paling berpengaruh versi Michael H. Hart.

Tokoh yang derajat keberpengaruhnya jauh melampaui Marx dan Hegel ini bersabda ; bahwa di setiap penghujung _tanduk_ alias abad, _umur ad din_--perkara-perkara agama mesti diperbarui. Bagi Gus Yahya, melahirkan tatanan baru untuk peradaban dunia adalah landasan penting memperbarui perkara-perkara agama. Tanpa tatanan baru, tidak akan mudah umat manusia menjaga komitmen keberagamaannya.

Peta dan visi Gus Yahya soal tatanan dunia baru, secara diametral berbeda dengan komunisme. Sebuah ideologi terkait filosofi, politik, sosial, dan ekonomi. Tujuan utamanya ; masyarakat komunis dengan aturan sosial ekonomi berdasar kepemilikan bersama alat produksi dan tidak adanya kelas sosial, uang, dan negara. Istilah komunisme sering dicampuradukkan dengan Komunis Internasional.

Kelamnya jalan Lenin

Komunisme atau Marxisme adalah ideologi dasar yang jamak digunakan oleh partai komunis di seluruh dunia. Sedang komunis internasional merupakan _majma'_ ideologi yang sanad dan matan-nya berasal dari pemikiran Lenin. Sering karena itu, mazhab ini disebut "Marxisme-Leninisme". Dari Lenin, sejumlah gerakan dalam dunia Islam, mengambil peta dan jalan. Hizbut Tahrir, adalah contoh mutakhir.

Selain di daratan Eropa dan sejumlah negara Timur Tengah, visi komunisme juga tumbuh subur di Tiongkok. Memang, dalam praktek, komunisme di Tiongkok, agak lain dari Marxisme-Leninisme yang diamalkan bekas Uni Soviet. Mao Zedong mengompilasi berbagai filsafat kuno dari Tiongkok dengan Marxisme yang kemudian ia sebut Maoisme. Komunisme Tiongkok lebih mementingkan peran kaum petani daripada kaum buruh.

Jalan dan metode yang dibangun Lenin tersebut, juga dijadikan mazhab oleh sementara kalangan di dunia Islam. Meski bukan satu-satunya, tapi sejumlah partai politik mendasarkan visi dan misinya atas sosialisme yang beririsan dengan komunisme. Partai Ba'ath adalah salah satu contoh. Di tengah pergolakan itu, lahirlah Pan-Islamisme. Gerakan ini awalnya adalah paham politik yang lahir pada saat Perang Dunia II (1936).

Ia mengacu pada buku "al-A'mal al-Kamilah", karya Jamaluddin Al-Afghani. Lalu tumbuh menjadi gerakan spesifik dan massif. Tujuannya ; berjuang mempersatukan dan mewadahi umat Islam di bawah satu "Dawlah Islamiyah" yang dalam dialektika dunia, disebut dengan khilafah. Seperti dicatat sejarah, Al Afghani mengalami kegagalan dan peta Pan-Arabisme berakhir dalam lipatan map sejarah.

Nasib serupa dialami Pan-Arabisme. Gerakan ini bertujuan menyatukan bangsa-bangsa dan negara di dunia Arab yang terletak di Samudra Atlantik sampai ke Laut Arab. Dasar nasionalismenya ; bangsa Arab adalah satu kesatuan bangsa. Cenderung sekuler dan sosialis, antikolonialisme, serta menjaga budaya dan tradisi Arab dari dominasi politik Barat. Pan-Arabisme adalah gerakan nasionalis. Peta ini, akhirnya juga berusia pendek.

Penguatan PCINU

Berangkat dari paparan ini, agar peta Staqufiyah--alias visi Gus Yahya, dapat ditawarkan sebagai alternatif pasca runtuhnya peta-peta lama, penting bagi Ketua Umum PBNU melakukan empowering atas keberadaan, peran dan leverage Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) yang tumbuh di banyak negara. Jika PCINU menjadi "emissary" NU untuk masyarakat dunia, maka menguatkan perannya menjadi mutlak, dan melimpahi kewenangan dalam batas-tertentu agar bisa merepresentasi jam'iyaah untuk dunia.

Secara berkala, seluruh PCINU menggelar Rapat NU Dunia. Rapat dilakukan secara daring. Dipimpin oleh seorang Presiden PCINU Dunia. Untuk melegitimasi posisinya, ia juga merupakan seorang kader berkelas "duta besar berkuasa penuh" yang diamanahi Ketua Umum menjabat salah seorang ketua di jajaran PBNU. Bagi kader NU Manca, komunikasi lewat teknologi dan digitalisasi, lebih leluasa dilakukan dibanding oleh PBNU Kramat Raya 164.

Penting disadari, para kader NU di PCINU adalah orang-orang pilihan, the limited edition, well educated dan memiliki bekal teori kepemimpinan yang melimpah, di atas rata-rata para saudaranya, kader-kader NU di cabang-cabang dalam negeri. Mereka adalah kepanjangan tangan dan spoke persons Ketua Umum PBNU, dan menjalankan fungsi-fungsi dasar sebagai emissary yang mengantongi kredensial resmi dari NU.

Ikhtitam

Jika semua aparatus di kepengurusan NU pada semua layer, berkomitmen membaca, menyimak, merenungi visi dunia Gus Yahya dalam buku "PBNU", maka _rei-nventing status PCINU adalah absolutelly needed. Mereka adalah penerjemah paling depan soal NU dan tatanan dunia baru versi Gus Yahya di lankskap dunia, di negara-negara mereka tinggal, tempat mereka mencari ilmu, dan menempa diri. Jangan sampai visi Staqufiyah berakhir di alam utopia. Usai muktamar 34 NU Lampung, akankah ada "muktamar" PCINU untuk memilih Presiden NU Dunia ? (*)

Ishaq Zubaedi Raqib

Penulis adalah kolumnis masalah-masalah NU

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

Simak juga 'Gus Yahya Temui Jokowi, Laporkan Hasil Muktamar NU':

[Gambas:Video 20detik]



(erd/erd)