Menyimak Lagi Tulisan Asli Gus Dur: Tuhan Tidak Perlu Dibela

Danu Damarjati - detikNews
Jumat, 07 Jan 2022 15:25 WIB
Gus Dur
Gus Dur (Getty images)
Jakarta -

Adik kandung Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Lily Wahid menolak mentah-mentah anggapan yang menyamakan cuitan Ferdinand Hutahaean soal 'Allahmu Lemah' dengan tulisan Gus Dur 'Tuhan Tidak Perlu Dibela'. Mari menyimak kembali tulisan asli Gus Dur itu.

Lily Wahid sendiri menilai pernyataan Ferdinand via media sosial itu tidak sama tingkatannya dengan tulisan serius Gus Dur pada dekade 1980-an silam, yakni tulisan berjudul 'Tuhan Tidak Perlu Dibela'.

"Kalau dia (Ferdinand) tak punya hak untuk membicarakan hal itu. Pernyatan Gus Dur dengan dia beda sekali. Dia (Ferdinand) cuma ikut-ikut aja, cuma untuk membangun opini orang terhadap dia lah," ungkat Lily Wahid kepada detikcom, Jumat (7/1/2022).

Mahfud MD, pria yang dekat dengan Gus Dur dan sekarang menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, juga sudah menjelaskan maksud Gus Dur mengenai 'Allah tidak perlu dibela'. Pernyataan Gus Dur bermakna 'Allah Maha Kuat'.

"Allah tidak lemah. Kalau Gus Dur bilang 'Allah tak perlu dibela' justru menurut Gus Dur karena Allah Maha Kuat sehingga tak perlu dibela dengan kekerasan dan brutal. Banyak dalilnya, misalnya, Quran Surat Alhajj Ayat 74: Innallah qowiyyun aziiz, 'Sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa'," cuit Mahfud Md lewat akun Twitter @mohmahfudmd, dilihat detikcom.

Kini, Ferdinand Hutahaean sendiri harus berurusan dengan polisi. Kasus ini naik ke level penyidikan. Berikut adalah cuitan Ferdinand yang membuatnya bermasalah:

Cuitan lewat akun Twitter @Ferdinandhaean3, tanggal 4 Januari 2021:

"Kasihan sekali Allahmu ternyata harus dibela. Kalau aku sih Allahku luar biasa, maha segalanya, DIA lah pembelaku dan Allahku tidak perlu dibela."

Tulisan Gus Dur

Gus Dur menulis esai berjudul 'Tuhan Tidak Perlu Dibela' pada era '80-an, Isinya adalah pandangannya mengenai gejala sosial-keagamaan kala itu.

Tulisan Gus Dur berjudul 'Tuhan Tidak Perlu Dibela' dimuat di rubrik 'Kolom' dalam Majalah Tempo, edisi 26 Juni 1982. Tulisan Gus Dur itu juga dimuat dalam buku berisi kompilasi tulisan Presiden ke-4 RI itu dengan judul yang sama, diterbitkan oleh LKiS, tahun 1999.

"Tuhan tidak perlu dibela, walaupun tidak juga menolak dibela," demikian tulis Gus Dur di paragraf akhir esainya itu.

Isi tulisannya menceritakan seorang sarjana X yang lulus kuliah dari luar negeri dan kembali ke Indonesia. Sarjana X pusing melihat gejala sosial-keagamaan muslim di Indonesia. Dia melihat ada gejala kemarahan orang-orang Islam terhadap modernisasi hingga busana dan tarian tradisional. Sarjana X menilai orang muslim di Indonesia selalu merasa terancam terhadap adanya serangan yang ditujukan untuk menghancurkan Islam.

Sarjana X kemudian berusaha mendapatkan jawaban atas gejala perasaan terancam yang melanda kaum muslim Indonesia itu. Jawaban dari agamawan tradisional tidak memuaskan hati sarjana X. Dia kemudian menemui cendekiawan muslim moderat, namun jawaban cendekiawan itu juga mengecewakan.

Jawaban yang memuaskan dia dapat dari guru tarekat (kelompok tasawuf). Sang guru menjelaskan bahwa Allah Maha Besar. Kebesaran Allah tidak akan berkurang oleh perbuatan orang terhadap-Nya. Sang guru mengutip penjelasan sufi Abad Pertengahan dari Afghanistan, Al Hujwiri, yang mengatakan bahwa Allah tidak perlu dibela bila ada orang yang menyerang hakikat-Nya.

Sarjana X menarik kesimpulan, polah orang yang merugikan Islam cukup disikapi dengan penjelasan yang baik. Tak perlu berlebihan menanggapi ekspresi yang merugikan Islam.

Berikut adalah tulisan Gus Dur berjudul 'Tuhan Tidak Perlu Dibela', dikutip dari Situs Resmi Gus Dur, GusdurNet:

Lihat Video: Ferdinand Hutahaean Ngaku Mualaf: Orang Tidak Pernah Tabayun!

[Gambas:Video 20detik]