Dili Kembali Memanas, 82 WNI Mengungsi ke Atambua

Dili Kembali Memanas, 82 WNI Mengungsi ke Atambua

- detikNews
Kamis, 04 Mei 2006 17:05 WIB
Kupang - Situasi keamanan di Kota Dili, Timor Leste, kembali memanas. Kerusuhan berdarah yang melibatkan blok timur yang merupakan pendukung pemerintah dan blok barat, pendukung para tentara nasional Timor Leste yang dipecat dari dinas kemiliteran, terjadi lagi dalam dua hari terakhir. Aparat keamanan dari polisi nasional dan unit pengamanan huru-hara berjaga-jaga di pusat kota. Warga Timor Leste diminta tetap berada di dalam rumah dan dilarang beraktivitas pada malam hari. Pemerintah setempat kembali memberlakukan jam malam dan pengamanan diperketat di kantor-kantor diplomat asing serta pusat perbelanjaan.Lebih dari satu kompi polisi mengamankan kantor-kantor pemerintah, istana presiden Xanana Gusmau serta gedung parlemen dan kantor PM Marti Alkatiri. Memanasnya situasi membuat warga di ibukota Dili sebagian mengamankan diri di dalam gedung-gedung gereja dan lokasi yang aman. Separuh warga sejak Rabu malam, memilih mengungsi ke pegunungan dan lokasi yang dianggap aman. Konflik antarfaksi yang mengarah pada perang saudara di negara yang baru memisahkan diri dari NKRI itu, memaksa 81 WNI dan satu warga asing berkebangsaan Korea Selatan, memilih untuk mengungsi ke Atambua, Kabupaten Belu, NTT, Kamis (4/5/2006) melalui perbatasan Motaain di utara Belu dan perbatasan Metamasin di bagian selatan. "Mereka mengaku tidak aman di Dili sehingga mengungsi. Mereka baru akan kembali ke Dili kalau suasana sudah kondusif," kata Komandan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan RI-Timor Leste, Letkol Art. Ediwan Prabowo, melalui telepon selulernya. Menurut Ediwan, situasi di perbatasan dalam kondisi aman dan terkendali. "Pengamanan dalam status siaga. Tidak ada kejadian yang menonjol, tetapi aparat keamanan tetap berjaga-jaga dengan kewaspadaan yang tinggi," katanya. Pekan lalu, ratusan WNI yang hendak mengungsi ke Atambua, akibat kerusuhan yang melibatkan masa pendukung tentara yang disersi dan faksi militer pendukung pemerintah menewaskan dua warga sipil dan dua anggota polisi. Kerusuhan terjadi akibat kebijakan petinggi militer yang memecat 591 tentara dari dinas kemiliteran. Lebih dari 100 WNI sempat eksodus meninggalkan negara itu. Ratusan WNI lainnya, memilih menyelamatkan diri di KBRI setempat. (nrl/)


Berita Terkait